Campkind Mengawin Silangkan Musik dengan Alam
(Foto: Alwaf Tahanuf El Hakim/KMJurnalistik.com)
Oleh: Raipa Dharma Wilarasa
Tiada pekan tanpa gigs yang beragam rupa. Musik kali ini hadir menghangatkan suasana di tengah sejuknya udara Cikole. Lewat gelaran Campkind, gigs seolah menjadi imigran yang meninggalkan hiruk-pikuk kota dan bermukim sementara di antara rimbunnya pepohonan di Tangkal Pinus. Berlangsung pada 26–27 September 2026, Campkind menghadirkan deretan penampil dari berbagai warna musik, mulai dari Beltigs, Grrrl Gang, Luby Sparks, Rub of Rub, Sunlotus, Bin Idris, bersama sederet nama lain yang turut meramaikan perhelatan selama dua hari. Penonton dimanjakan dengan kawin silang antara musik dan alam yang melebur tanpa sekat, menghadirkan dimensi lain bagi sebuah perhelatan gigs. Tak hanya musik, perhelatan Campkind turut diisi berbagai tenant dari sejumlah lini, mulai dari fashion, jasa, hingga kuliner.
Deretan penampil yang hadir membawa warna masing-masing ke tengah dingin yang menyelimuti Cikole. Grrrl Gang datang membawa energi yang tak mau jinak, membakar semangat dengan dentum yang menggetarkan tanah. Mikrofon di tangan vokalis Grrrl Gang seperti menyulut lighter di tengah kerumunan, memantik kaum hawa hingga riuh pun menjalar ke sekujur Cikole.
Jika Grrrl Gang datang dengan energi yang tak mau jinak, Bin Idris hadir bak seorang khatib yang datang setelah riuh panjang. Mengutarakan lirik-lirik siraman rohaninya, mengajak kerumunan menepi sejenak dari hingar-bingar. Di pagi yang masih menyisakan dingin dan kantuk, nada-nada Bin Idris menjadi penutup dua hari Campkind dengan lantunan yang jauh dari bising malam sebelumnya.
Campkind tak hanya memindahkan musik dari kota ke hutan, tetapi juga membawa sejumlah aktivitas yang biasa ditemui di kota ke suasana alam. Pandu, selaku salah satu penyelenggara acara, mengatakan konsep tersebut berangkat dari keinginannya mencoba suasana baru dan rehat sejenak dari hiruk-pikuk kota. “Karena aku reguler bikin acara di kota, terus pengen nyobain suasana baru. Kayak mencoba rehat sejenak dari hiruk-pikuknya kota. Aktivitas-aktivitas yang biasa kita lakukan di kota, kita coba di hutan. Kayak main PS, main pingpong, nonton, kemarin ada barbershop,” ujar Pandu dalam wawancara bersama KMJurnalistik di Tangkal Pinus pada Minggu (27/9).
Di antara musik dan berbagai aktivitas lainnya, berkemah menjadi salah satu bagian yang tak terpisahkan dari Campkind. Pengunjung tidak sekadar datang untuk bercengkerama sembari menikmati alam dan mendengarkan suguhan musik yang dialunkan, tetapi juga menetap semalam di Tangkal Pinus, mengikuti rangkaian aktivitas yang terus bergerak dari sore hingga pagi.
Memasuki pagi, suasana Campkind berubah menjadi lebih tenang. Musik yang kembali terdengar dari panggung berpadu dengan suasana hutan yang perlahan mulai terang. Robin, salah satu penikmat acara, melihat kecocokan antara suasana alam, lokasi, dan kurasi musik yang dibawa Campkind. “Menurut aku yang menarik banget karena aku suka banget alam dan hutan-hutan seperti ini. Sangat dekat ke hati, jadi memang suka banget konsepnya. Karena lokasinya, seleksi lagu, dan kurasi talent-nya sangat pas,” jelas Robin.
Hal serupa juga dirasakan Putra, salah satu penikmat acara, tetapi ia melihat perbedaan Campkind dari cara gigs ini menempatkan musik di ruang terbuka. Menurutnya, layout hutan dan kurasi talent membuat pengalaman menonton terasa berbeda dari gigs yang biasa berlangsung di tengah kota. “Mungkin dari segi lokasi. Secara layout, kita outdoor. Mostly gigs biasanya ada di kota atau di tengah kota. Nah, di sini konsepnya keren. Itu sih perbedaannya,” ujar Putra.
Keramaian yang dibawa Campkind ke Cikole tidak hanya menyisakan suara musik. Ketika ratusan orang berkumpul dan bermalam di satu kawasan, kebersihan menjadi bagian lain yang tak luput dari perhatian. Perilaku pengunjung justru menjadi penentu apakah alam hanya dipakai sebagai tempat singgah atau turut dijaga selama acara berlangsung.
Rizwan, gitaris sekaligus vokalis Rub of Rub, melihat adanya perubahan kebiasaan dari para pengunjung selama berada di kawasan acara. “Mungkin secara nggak langsung ya, maksudnya jadinya nge-edukasi ke audiens juga. Kayak yang datang pasti malu gitu buang rokok sembarangan. Jadi positifnya itu ya, jadi kebiasaan yang buruk itu jadi teredukasi,” ucapnya.
Namun, berada di ruang yang berbeda dari gigs pada umumnya rupanya bukan hanya perkara menjaga kebiasaan selama acara berlangsung. Campkind juga memperlihatkan keberanian untuk keluar dari pola perhelatan musik yang lazim ditemui di Bandung.
Dari sudut pandang lain, Zona Kautsar, drummer Rub of Rub, melihat Campkind hadir membawa sesuatu yang masih jarang ditemui dalam pergerakan musik di Bandung. Bukan sekadar memindahkan panggung ke tengah alam, tetapi memberi ruang bagi band-band yang belum banyak mendapat sorotan untuk tumbuh di hadapan penonton.
“Ini udah berani kalau menurut saya. Untuk Campkind ini udah berani buat terus kayak datengin band-band yang underrated,” ujar Zona. Menurutnya, keberanian tersebut turut terasa dari cara Campkind mengajak pengunjung meninggalkan sejenak kebiasaan di tengah kota. “Grounding kadang perlu juga gitu. Kita tuh nggak mesti pakai sepatu. Itu ada baiknya juga. Back to nature ya, gitu,” tambahnya.
Ruang yang berbeda itu rupanya tidak hanya memengaruhi pengalaman penonton. Berpindah dari ruang-ruang pertunjukan seperti club atau cafe ke kawasan terbuka membuat pengalaman bermusik terasa berbeda. Bagi Haikal atau yang kerap disapa Bin Idris, perubahan ruang tersebut bahkan turut memengaruhi cara ia memainkan musik di atas panggung.
“Suasananya terasa agak berbeda. Kalau yang saya sadari, temponya jadi lebih lambat karena suasananya enak. Jadi tanpa sadar tempo saya jadi lebih lambat,” ujar Bin Idris. Menurutnya, tampil di ruang terbuka juga menghadirkan bentuk interaksi yang lebih luas. “Biasanya kita di club atau cafe, kalau di luar rasanya jadi interaksinya bukan cuma sama penonton, tapi juga sama lingkungan sekitar,” pungkasnya.
Akhir pekan pun larut dalam dingin Cikole dan riuh musik Campkind 2026. Berselimut kabut yang menenangkan, dipayungi pepohonan pinus yang menjulang, serta bisik hutan yang bertaut dengan nada-nada yang menguar dari panggung, menghadirkan suasana magis serupa utopia yang tumbuh di balik rimbun pinus. Dua hari lamanya, kabut Cikole, rimbun pinus, dan nada-nada dari panggung mengiringi mereka yang memilih menukar riuh kota dengan akhir pekan di tengah hutan.
Editor: Zidan Al-Afgani
