Burst Solidarity Galang Donasi Flores Melalui Gigs dan Pameran Seni
(Foto: Beryl Fauzan/KMJurnalistik.com)
Oleh: Dekha Pashka Rinofan
Musik bawah tanah (underground) Kota Kembang kembali membuktikan taringnya sebagai corong kemanusiaan yang nyata. Aksi kemanusiaan besutan Burst Solidarity yang bernama “All Hands for Flores” ini sukses digelar pada Sabtu, 12 September 2026, bertempat di Fragment Project, Bandung.
Melalui gelaran panggung musik dan pasar seni, Burst Solidarity berhasil menggalang dana dengan sistem Donation Ticket minimal Rp50.000 secara on the spot (OTS), serta mendonasikan seluruh keuntungan dari penjualan karya seni visual yang dipamerkan. Seluruh dana yang terkumpul disalurkan secara transparan melalui lembaga kemanusiaan Sekolah Relawan.
Aksi yang mengusung tema Flores ini rupanya merupakan gerakan keempat yang diinisiasi oleh Burst Solidarity, setelah sebelumnya sukses menggelar aksi serupa untuk wilayah Sumatera, Aceh, hingga Cisarua, Bandung. Kali ini, Flores dipilih karena dinilai menjadi salah satu wilayah yang terdampak bencana paling awal dalam siklus bencana belakangan ini.
Selaku bagian dari tim penyelenggara Burst Solidarity, Nia Fitri dan Hisyam menyatakan bahwa gerakan ini lahir dari keresahan kolektif terhadap lambannya penanganan dari pihak berwenang di area terdampak bencana.
“Berlatar belakang karena penanganan dari pemerintah juga lambat. Sedangkan proses untuk pulih dan healing itu lama. Seenggaknya dari semua bencana, kita buatlah salah satu untuk membantu sedikit banyaknya,” ujar Nia saat diwawancarai pada Sabtu (12/9) di Fragment Project.
Respons Skena dan Solidaritas Lintas Lini
Menurut Nia dan Hisyam, format kolaborasi dipilih demi menyatukan berbagai corak ekspresi anak muda Bandung untuk satu tujuan sosial. “Di Bandung cara paling gampang buat bergerak itu movement-nya dari musik dan seni. Makanya kita bikin acara musik yang diselipin juga pameran artwork di dalamnya, biar yang vokal bukan cuma musiknya aja,” tambah Hisyam.
Energi kemanusiaan ini diamplifikasi lewat penampilan distorsif dari deretan talenta lokal yang tampil sukarela tanpa bayaran, mulai dari Asylum Uniform, Bricks, Brigade of Crow, Gutz Reaper, Honey, hingga Mehr. Tidak hanya dari atas panggung, ruang pameran Fragment Project juga dipadati oleh rilisan karya seni dari para artworker ternama seperti Studio Pancaroba, Melt Gods, Bharata.danu, Eye_dust, Spiral Occultism, Mfaxii, dan Junieawan Bagaskara.
Lebih lanjut, gelaran kolektif ini juga dipandang efektif menjadi ruang peleburan massa yang meluas hingga luar daerah seperti Sumedang, Cianjur, Bogor, hingga Jakarta. Rekan satu bandnya di Gutz, Osmon, mengamini bahwa momentum ini menjadi pemantik kesadaran kolektif di tengah hiruk-pikuk tongkrongan anak muda Bandung hari ini untuk mematahkan pandangan sebelah mata masyarakat umum terhadap skena musik bawah tanah.
Pernyataan senada juga datang dari Yusuf dan Dwey, personel Brigade of Crow. Bagi mereka, aksi kolektif semacam ini memiliki akar sejarah (roots) yang kuat dalam kultur musik global, mirip dengan gerakan legendaris sekelas Live Aid. Latar belakang personal yang karib dengan realitas kelas bawah membuat mereka enggan bersikap acuh terhadap bencana.
“Kita ngerasain kalau misalkan hidup di bawah juga enggak enak, jadi otomatis hati nurani bergerak buat saling ngebantu. Lewat pergerakan kreatif ini, dampak positifnya banyak, kita bisa menyambung dan menambah relasi baru di luar ranah musik. Selagi gerakannya positif, kami selalu terbuka. Orang-orang yang nyinyir tidak usah dipikirkan, karena terbukti di sini masih sangat banyak orang baik yang peduli,” tegas Yusuf.
Gilang, personel dari band Gutz, menegaskan bahwa keterlibatan para pelaku musik di acara ini murni didasari oleh panggilan kemanusiaan, bukan sekadar identitas golongan. “Sebenarnya bukan ngomongin masalah anak musik atau bukan anak musik. Ini peran kita sebagai manusia aja, makhluk sosial yang saling membutuhkan. Tidak melulu melalui rupiah, semua bentuk aksi yang emang bisa mempengaruhi teman di sekitarnya buat melakukan hal ini adalah wujud mitigasi dan sumbangsih waktu,” jelas Gilang.
Panggung Underground yang Aman dan Inklusif
Pemandangan menarik dan hangat turut mewarnai sudut Fragment Project malam itu. Di tengah riuhnya distorsi musik cadas, Udin, salah satu audiens yang hadir, tampak memboyong anak perempuan kecilnya yang bernama Aliska. Kehadiran mereka menjadi bukti hidup bahwa ruang kreatif underground Bandung hari ini telah bergeser menjadi lingkungan yang aman, ramah keluarga, dan inklusif.
Udin mengaku sengaja datang untuk memberikan dukungan moril kepada teman-temannya yang sedang tampil sekaligus mengajak Aliska menikmati musik kegemarannya. “Buat aku ruang kolektif seperti ini cukup efektif untuk mengajak orang lain terlibat dalam aksi solidaritas, semacam mencari amal dalam bentuk baru. Kalau ditanya aman atau enggak bawa anak, buat aku aman-aman saja karena Aliskanya sendiri memang suka dengan musik ini,” tutur Udin hangat.
Mengamplifikasi Solidaritas di Jilid Kedua
Bagi masyarakat skena, mahasiswa, maupun publik luas yang menolak abai, estafet kepedulian ini belum mencapai titik akhir. Kolektif ini secara resmi mengumumkan bahwa “All Hands for Flores Vol. 2” siap kembali berdentum pada Sabtu, 19 September 2026, bertempat di episentrum yang sama, Fragment Project, Bandung.
Melalui jilid kedua ini, roda pergerakan kembali memanggil elemen muda Kota Kembang untuk meleburkan ego dan melipatgandakan barisan. Ruang ini terbuka lebar bagi siapa saja yang siap menginvestasikan waktu, energi, maupun materi lewat donasi tiket on the spot serta apresiasi karya. Sebab pada akhirnya, jarak geografis boleh memisahkan kita dengan Flores, namun denyut kemanusiaan di dalam skena musik Bandung menegaskan bahwa empati tidak akan pernah bisa disekat. Mari merapat, bersuara, dan bergerak melampaui batas hiburan.
Editor: Zidan Al-Afgani
