MERDEKA DARI SIAPA? Menggugat Hari Kemerdekaan Lewat Distorsi Punk Rock Dago Elos

(Foto: Beryl Fauzan/KMJurnalistik.com)

Oleh: Dekha Paskha Rinofan 

Agustus selalu datang dengan ritus yang sama di setiap sudut kota. Aku melihat umbul-umbul merah-putih bersolek rapi di pagar-pagar rumah mewah, deretan perlombaan seremonial digelar di gang-gang sempit, dan pidato kedaulatan menggema dari pengeras suara formalitas. Namun, tepat di hari perayaan kemerdekaan ini, atmosfer yang sepenuhnya berbeda justru tersaji di depanku saat aku melangkah masuk ke Dago Elos. Di sini, tidak ada pesta tahunan yang nyaman. Mataku disambut oleh serbuan pakaian serba hitam, jaket jinjing penuh dengan spike, sepatu boot berat, serta barisan rambut jambul mohawk yang berdiri tegak menantang langit.

Sabtu, 15 Agustus 2026, observasi kulakukan seraya melebur di tengah riuhnya panggung solidaritas tersebut. Di atas tanah sengketa yang ruang hidup warganya masih dibayangi ancaman perampasan oleh mafia tanah, aku meyaksikan bagaimana musik keras menjelma menjadi senjata politik akar rumput yang nyata. Panggung solidaritas yang diinisiasi oleh kolektif progresif seperti Aliansi Rakyat Anti Penggusuran, Dago Melawan, Skena Skeno, Teater Aruslaras, dan Dizmal Media ini kurasakan bukan sekadar tempat hiburan massa. 

Menariknya, di tengah kerumunan, aku melihat atmosfer subkultur ini tidak hanya diisi oleh pemuda kota; anak-anak kecil warga Dago Elos pun tampak larut, meniru gaya, memakai atribut, dan ikut menangkap energi perlawanan yang menjalar di kampung mereka. Rangkaian aktivasi ruang ini sebenarnya sudah dibuka sehari sebelumnya, pada Jumat, 14 Agustus 2026, melalui pertunjukan seni teater bertajuk “Jangan Makan Tanah Kami” yang dimainkan oleh anak-anak warga setempat. Aku tahu, pertunjukan itu digelar untuk merawat ingatan dari trauma represi aparat tiga tahun silam. Namun malam itu, aku melihat para inisiator menyerahkan estafet gerakan kepada barisan garda depan musik underground Bandung: Turtles.Jr, Discont, HC Forlaxx, Unacceptable Punk, Decay Crustcore, G.O.G Punk, Accident, hingga solois Kang Edi. Mereka berkumpul untuk meledakkan memori kolektif tersebut menjadi energi konfrontasi politik yang nyata menghadapi momentum 17 Agustus. 

Dari Tubuh yang Berbenturan ke Suara Perlawanan

Tepat di depan mataku, situasi seketika memanas menjadi arena moshing dan dansa pogo yang bising. Aku melihat tubuh-tubuh penuh peluh saling berbenturan keras, melepaskan kepulan debu tanah Dago Elos ke udara. Di dalam sirkel tersebut, aku bisa merasakan bagaimana amarah, frustrasi, dan tekanan psikologis dilepaskan bersama. Hebatnya, aku tidak melihat ada dendam di sana. Tepat setelah lagu selesai, mataku menangkap momen haru ketika tubuh-tubuh yang semula saling hantam itu mendadak saling merangkul, berpelukan, dan tersenyum damai. Kebisingan ini kurasakan sebagai sebuah katarsis kolektif—sebuah cara jujur untuk merayakan rasa aman bersama warga. 

Daya dobrak ideologis semakin membara saat aku melihat Unacceptable Punk naik memegang kendali panggung. Ketegangan langsung memuncak di depanku, dan aku melihat salah satu pria di panggung mengibarkan bendera merah-hitam saat band Unacceptable Punk membawakan lagunya, menegaskan simbol perlawanan anarkis tanpa kompromi terhadap otoritas. Di bawah kibaran bendera tersebut, mereka menghentak lewat lagu pertama berjudul “Panjang Umur Ilegalis” dari album Decontrol. Lewat lagu ini, lantunan narasi radikal tentang sabotase terhadap sistem membahana dalam arena, seruan untuk meredam dominasi para pemodal dan instansi negara, serta ajakan terbuka bagi akar rumput untuk merebut kembali hak hidup mereka dengan menjadi garda pemberontak yang meruntuhkan segala belenggu struktural demi kebebasan mutlak. 

Sebelum lagu kedua dibawakan, aku mendengar sang vokalis menyebarkan kesadaran lintas sektoral mengenai pelanggaran hak asasi manusia. Dari atas panggung, ia berteriak lantang menyuarakan pembebasan wilayah-wilayah yang tertindas: “Free Palestine!“, “Free Flores!“, “Free Aceh!“, hingga “Free West Papua!“. Di tengah riuhnya orasi tersebut, seorang penonton lelaki di barisan depan tiba-tiba mengisyaratkan pesan penting. Tanpa ragu, sang vokalis menyodorkan mikrofonnya. Lelaki itu langsung memanjat naik ke atas panggung, mengambil alih pengeras suara, dan meledakkan orasi radikalnya yang menembak mentalitas ketakutan massa: “Bunuh semua polisi di dalam pikiran kalian!“—sebuah seruan spontan namun menghantam. Pikiranku mengatakan jika seruan itu merupakan upaya menghancurkan trauma represi aparat yang sempat meremukkan Dago Elos tiga tahun lalu.

Sesaat setelah gelombang kesadaran itu dilemparkan, lagu “Bebaskan” dihantamkan dengan keras tanpa ampun. Melalui komposisi ini, mereka menegaskan bahwa perang adalah sebuah kejahatan dan pengkhianatan akan kemanusiaan yang nyata, baik yang terjadi di Palestina, Papua, hingga Rojava, seraya menyerukan aksi langsung berupa pemblokadean jalanan dan sabotase roda-roda mesin kapital.

Kontras spiritual yang magis justru tersaji di depanku saat HC Forlaxx mengambil alih panggung. Band hardcore ini tampil sangat ikonik karena posisi vokalisnya diisi oleh seorang perempuan yang mengenakan sorban di kepalanya sebagai simbol perlawanan kuat. Visual itu kumaknai sebagai lambang pemukul balik stigma konservatif: bahwa musik cadas dan distorsi keras bisa berjalan beriringan dengan nilai-nilai spiritualitas ketika berhadapan dengan isu pembelaan kaum tertindas (mustad’afin). Musik di sini bukan lagi sekadar instrumen seni, melainkan media perlawanan yang inklusif. Mereka membawakan lagu “Musnahkan Zaman Kebodohan” dari album Sebelum Ajal Berpantang Mati. Dari balik mikrofon, aku mendengar sang vokalis menggemakan kritik tajam terhadap tatanan patriarki yang berselubung dogma sempit, di mana tindakan eksploitasi dan perusakan terhadap perempuan kerap dikemas secara keliru sebagai bentuk pengabdian demi khayalan petak surga. Dengan vokal yang meledak-ledak, lagu ini menyuarakan keberanian yang menghancurkan rasa takut, sekaligus membalikkan narasi usang dengan menegaskan bahwa ketakutan sejati justru akan merayapi pihak-pihak opresif saat kekuasaan mereka runtuh di tangan perlawanan perempuan. 

Kata Adalah Senjata

Bagi warga, bait-bait lagu keras dan konfrontatif ini adalah penyambung lidah yang bernyawa. Aku mencatat bagaimana Tuti meluruskan fakta sengketa perdata Dago Elos yang sebenarnya masih bergulir panjang di tahap Peninjauan Kembali (PK) Kedua melalui kalimat tegasnya kepadaku.

Acara musik ini sengaja kami ramaikan lagi untuk meluruskan salah paham publik. Di luar sana, banyak yang mengira perjuangan Dago Elos sudah selesai karena keluarga Muller sudah divonis bersalah di ranah pidana. Padahal itu beda kamar hukum; kasus sengketa lahan kami ini jalurnya perdata dan prosesnya masih berjalan. Melalui panggung ini, kami ingin mengingatkan khalayak luas bahwa Dago Elos masih konsisten berlawan.

Sifat musik berdistorsi bising sengaja dipinjam warga untuk mengaktivasi ruang kolektif dan memecah kesunyian hukum. Sikap kritis band-band underground ini sejalan dengan pernyataan sikap vokalis Turtles.Jr (Eros) yang terdengar berbicara lantang mengenai eksistensi ruang hidup warga.

Panggung ini penting karena ada sebuah penyimpangan nyata terkait ruang hidup warga Dago Elos yang sudah berjalan bertahun-tahun. Bagi saya, sengketa agraria ini adalah bentuk ketidakadilan yang kasat mata. Ruang hidup adalah hak mutlak warga yang harus diperjuangkan dan dipertahankan habis-habisan. Dampak dari perampasan tanah ini sangat luar biasa buruk; ibaratnya, ini adalah sebuah ultimatum kematian bagi masa depan warga Dago Elos. Alasan itulah yang membuat kami, sebagai representasi dari band-band punk pergerakan, hadir langsung untuk mendukung penuh barisan warga.

Sentimen kemarahan agraria dan perlawanan gagasan ini berkelindan pekat dengan apa yang kudengar langsung dari Apep, vokalis sekaligus founder band Discont. Di belakang panggung yang temaram, di sela-sela riuhnya deru distorsi band lain yang sedang menghentak Balai RW 02 Dago Elos, aku berkesempatan mengobrol secara mendalam dengannya. Baginya, panggung bising Dago Elos bukanlah ruang hura-hura tanpa arah, melainkan sebuah menara pengawas yang memanggil kembali ingatan kolektif atas trauma masa kecilnya sendiri. Saat menceritakan garis sejarah itu, aku menangkap guratan emosi yang mendalam dari sorot matanya yang tajam—sebuah memori kelam tentang ancaman penggusuran oleh rezim Orde Baru di kawasan Pasir Koja hingga Pagarsih yang seketika hidup kembali malam itu:

Penting sekali untuk ada di sini. Karena jauh sebelum tragedi Mei 1998 dan sebelum era Soeharto jatuh, wilayah tempat tinggal saya dari Jalan Pasir Koja sampai Jalan Pagarsih juga pernah mengalami hal serupa. Hampir dirampas haknya. Waktu tahun itu, proyek pasar itu di-backup oleh Tutut, anaknya Soeharto. Untungnya keburu bapaknya jatuh dan diturunkan dari kekuasaan. Tapi sampai sekarang, area di depan Masjid Raya itu statusnya masih sengketa dengan pemerintah. Jadi, saya pribadi merasa penting berada di sini karena pernah merasakan sendiri bagaimana rasanya diusir dan pintu rumah digedor-gedor secara intimidatif. Walaupun waktu itu saya masih kecil, usia sekitar delapan tahun, saya ingat betul rasanya rumah kami hampir diusir dan setengah bangunannya sudah ditandai dengan tanda merah di atasnya untuk menandai bahwa tanah itu sudah diklaim milik pemerintah. Padahal kita punya sertifikat resmi, ada bayar pajak tiap tahun. Kenapa jadi kita yang harus mengungsi? Saya menempati tanah itu sudah dari zaman Uyut (buyut).” 

Ia sempat terdiam sejenak, menghela napas panjang sembari menatap keramaian warga yang hadir pada malam itu, sebelum akhirnya bersuara kembali.

Uyut saya bilang: kalau ada yang sampai berani mengganggu daerah ini, terutama tanah milik sendiri, sebelum keluar darah mah jangan menyerah. Pertahankan!” lanjutnya dengan tegas.

Suasana di sekitar kami terasa hening sejenak ketika ia menyelesaikan kalimatnya, berbanding terbalik dengan kebisingan panggung di luar. Ada getaran amarah yang diwariskan dari generasi ke generasi yang kurasakan mengalir kuat dalam setiap penekanan katanya. Pesan dari buyutnya tentang bertahan sebelum titik darah penghabisan seolah menjelma menjadi fondasi ideologis mengapa pria di depanku ini tetap konsisten berdiri tegak membela kaum tertindas, puluhan tahun setelah trauma masa kecilnya berlalu.

Bagi Apep, distorsi dan bait-bait lirik cadas yang mereka muntahkan dari atas panggung adalah amunisi paling jujur untuk merawat barisan pertahanan warga. Ia menolak keras jika subkultur mereka direduksi sebatas stigmatisasi negatif oleh masyarakat urban.

Enggak juga. Bahkan warga di sini sangat mendukung kehadiran kami karena yang kami bawa bukan ke ugal-ugalan tanpa arah. Lirik-liriknya itu melawan—sebuah bentuk perlawanan gagasan. Senjata kami adalah kata. Kamu mengerti tidak apa artinya?

Aku terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat. Belum sempat aku membalas, ia sudah memotong hening dan melanjutkan ucapannya.

Kalau warga tidak satu suara, tidak satu paham, satu tujuan, dan satu visi yang solid untuk mempertahankan hak miliknya, tanah ini akan gampang terbang dan dikuasai oleh korporasi atau PT-PT itu. Alhamdulillah, saya mengikuti dan mengawal isu Dago Elos ini dari tahun-tahun sebelumnya, termasuk kasus Sukahaji. Bentuk perlawanan di sini sangat bagus karena kita berhasil menggerakkan dan mengajak solidaritas dari luar daerah. Karena di luar daerah pun banyak kejadian perampasan lahan seperti ini. Akhirnya kita saling terkoneksi dan saling mendukung. Kita dukung yang di Banten dan Bogor, mereka juga dukung yang di Dago. Jaringan ini bergerak melalui media dan skena underground. Kenapa kami memakai musik keras dan nggak pakai dangdut? Kalau pakai dangdut, apa yang mau kita suarakan? Yang kita utarakan nanti bukan perlawanan atau ajakan menyemangati warga, tapi malah jadi goyang Karawangan dong! Senggol kanan, senggol kiri yang banyak,” gurau Apep tertawa pelan.

Ketika dibenturkan langsung dengan momentum hari kemerdekaan ini, musik punk rock secara radikal menelanjangi kepalsuan definisi kemerdekaan formalitas yang disodorkan oleh instansi negara. Aku mencatat bagaimana Apep membongkar ironi tersebut dengan sebuah gugatan makro yang memukul kesadaran kelas kita,

Kalau saya pribadi dan keluarga kami, merasa belum merdeka. Tolok ukur merdeka itu sederhana: kalau kita disebut merdeka, kita tidak perlu lagi pusing memikirkan biaya fasilitas dasar karena semua difasilitasi oleh pemerintah. Ke rumah sakit gratis, akses pendidikan gratis. Sekarang, mana di Indonesia yang bisa disebut sudah merdeka?

Ada getir dan derita yang mengendap dalam nadanya ketika pertanyaan itu meluncur. Antara kesal, putus asa, dan sekelebat nada sedih yang berusaha ia sembunyikan.

Menurut saya, merdeka di negeri ini hanya berlaku buat orang-orang kaya saja. Sumber daya alam kita melimpah, tapi rakyatnya kok serba kekurangan? Itu harusnya jadi pertanyaan besar buat banyak orang di luar sana, bahkan pertanyaan kita semua,” lanjutnya. 

Dalam hati, aku sepenuhnya mengamini gugatan itu.

Saya pribadi bahkan sudah delapan tahun—sejak sebelum masa pandemi—menolak dan tidak pernah lagi mengibarkan bendera merah-putih di rumah karena realitas ini. Saya mah lebih baik mengibarkan bendera komunitas BMX daripada pura-pura merdeka. Kemerdekaan kita kalah jauh kalau dibandingkan dengan negara luar yang menjamin penuh sektor esensial seperti pendidikan dan kesehatan warganya tanpa harus membayar iuran per bulan,” ujarnya, menutupi kesedihan narasi itu lagi-lagi dengan terkekeh geli.

Kritik anarki-kritis ini kulihat berjalan selaras dengan apa yang diutarakan oleh Ama (Turtles.Jr) mengenai ilusi kedaulatan sipil. 

Selama ada negara, enggak akan merdeka. Ya, maksudnya tuh, ketika negara hadir, kemerdekaan mah gak ada. Kemerdekaan Agustus itu kan emang udah dimapankan begitu saja oleh negara. Udah, keberadaan negara mah bikin kita gak merdeka sebetulnya.

Penolakan untuk menjadi munafik dalam merayakan kemerdekaan semu berwujud nyata pada boikot atribut negara yang kusaksikan langsung di Dago Elos. Daerah ini telah sunyi dari bendera merah-putih selama tiga tahun terakhir semenjak tragedi berdarah 2023. Aku merinding mendengar Ayang mengungkapkan argumen berani warga setempat. 

Kami melarang untuk menaikkan bendera merah putih karena literally kami belum merdeka. Ruang hidup kami belum benar-benar ada di tangan kami, kami masih terancam dengan penggusuran di tengah carut-marutnya negara kita sekarang ini. Jadi buat apa kita fake, buat apa kita munafik untuk menaikkan tiang bendera? Kalau bendera setengah tiang mungkin boleh karena itu bentuk duka cita bahwa Indonesia sedang berduka saat ini. Jadi yang akan kita naikkan selama tiga tahun terakhir ini hanyalah Bendera Dago Melawan.

Malam semakin larut dan aku melihat ampli gitar satu per satu mulai dimatikan di area Balai RW. Distorsi mungkin mereda, namun amunisi kata dan tantangan moral harus kubawa pulang bersama. Aku ingat betul bagaimana Ama memberikan tantangan terbuka mengenai kontribusi nyata gerakan mahasiswa yang tergambar sebagai kaum intelektual di depanku. 

Warga pasti seneng dibantu gerakan mahasiswa yang dianggap kalangan intelektual dibanding anak punk. Ketika dari kalangan mahasiswa ikut andil, ikut masuk, berkontribusi memperjuangkan Dago Elos, itu mah keren. Tinggal kalian aja kontribusinya seperti apa untuk kedepannya?” 

Tantangan itu langsung dijawab oleh harapan Ayang yang memintaku dan kawan-kawan agar ilmu bangku kuliah diimplementasikan secara nyata ke lingkungan sekitar, 

Saya berharap dari segala sisi ilmu yang sudah akang-teteh timba sebagai mahasiswa dapat diimplementasikan secara nyata, secara langsung demi memperbaiki kehidupan rakyat di sekitarnya. Ilmu itu akan sangat berfungsi dan bermanfaat jika dipraktikkan dalam kehidupan nyata.

Perlawanan Tidak Akan Pernah Berhenti

Tepat pada hari ini, 17 Agustus 2026, ketika kota-kota lain di seluruh Indonesia riuh bersukacita merayakan apa yang mereka sebut sebagai hari kemerdekaan, sebuah kontras yang memilukan terpampang nyata di mataku saat merefleksikan Dago Elos. Di saat masyarakat luar sibuk dengan kemeriahan pesta tahunan, aku menyaksikan warga Dago Elos justru terdiam dalam duka, berdiri kokoh di atas barikade karena menyadari bahwa hak hidup mereka belum benar-benar merdeka dari cengkeraman setan tanah. Namun, kekosongan atribut merah-putih di daerah ini kurasakan tidak digantikan oleh keputusasaan. 

Melalui bisingnya rentetan distorsi dari album Decontrol dan Sebelum Ajal Berpantang Mati, musik cadas telah membuktikannya di depanku tentang fungsinya yang paling sakral: bukan sebagai hiburan pelepas penat, melainkan sebagai instrumen perlawanan yang merobek kepalsuan seremoni di luar sana. 

Dari atas panggung solidaritas Dago Elos, aku akhirnya mendefinisikan ulang arti kedaulatan yang sejati. Merdeka bukanlah selembar kain yang dipaksakan berkibar di atas tiang kemunafikan, melainkan hidup di dalam kepulan debu moshpit, pada sorban di atas panggung cadas yang meneriakkan keadilan agraria, dan pada keberanian kolektif yang kurasakan dirawat bersama. 

Sebelum turun dari panggung, aku mencatat Apep menitipkan satu pesan pamungkas yang mengunci esensi perjuangan malam itu.

Keep surviving! Tetap bertahan dengan prinsip pemikiran masing-masing, meskipun setiap orang punya latar belakang pemikiran yang berbeda. Tapi khusus untuk urusan melawan penindasan, kita harus satu suara. Saya cuma minta satu suara itu saja untuk memperbaiki keadaan. Walaupun karya-karya musik perlawanan kita ini tidak akan pernah sampai atau didengar di dalam Gedung Parlemen, DPR, atau MPR, setidaknya kita terus berkarya untuk menyuarakan suara hati rakyat yang benar-benar membutuhkan, yang tertindas, dan yang selama ini dianaktirikan oleh sistem.

Ketika suara vokal terakhir habis bergema, aku tahu alarm perlawanan di barikade Dago Elos tidak ikut padam; ia akan terus berdengung panjang di kepalaku sebagai pengingat bagi kita semua, bahwa selama ruang hidup rakyat kecil masih dijajah oleh keserakahan mafia tanah, upacara bendera di luar sana hanyalah sebuah perayaan semu di atas tanah bangsa yang belum sepenuhnya merdeka.

Editor: Zidan Al-Afgani