MERAWAT INGATAN: TINDAKAN REPRESIF APARAT PADA WARGA DAGO ELOS SEJAK TIGA TAHUN SILAM
(Foto: Azmy Andhika Wellza)
Oleh: Beryl Fauzan
Jumat 14 Agustus 2026, Dago Elos, Kota Bandung, warga Dago Elos dan Aliansi Rakyat Anti Penggusuran menggelar pertunjukan seni teater yang bertajuk “Jangan Makan Tanah Kami”. Dimana teater tersebut diperankan oleh anak-anak kecil warga Dago Elos. Lantunan musik mengiringi anak anak bermain peran dalam teater, cahaya lampu sorot menerangi jalannya pertunjukan, sorak sorai penonton ikut memeriahkan teater tersebut. Teater ini di inisiasi oleh Aliansi Rakyat Anti Penggusuran, Dago Melawan, Skena Skeno, Teater Aruslaras, dan Dizmal Media. Di bulan Agustus ini katanya bulan kemerdekaan, tapi kemerdekaan itu tidak dirasakan warga Dago Elos. Mengingat tepat pada tiga tahun lalu tanggal 14 Agustus 2023 tindakan represif aparat meninggalkan rasa trauma pada warga, terutama pada anak-anak kecil yang menyaksikan langsung betapa brutalnya para aparat. Hal ini dikarenakan adanya konflik antara warga dan mafia tanah yang ingin mengambil alih secara paksa ruang hidup warga Dago Elos untuk kepentingan mafia tanah. Acara ini menjadi sebuah ruang untuk mengobati sekaligus merawat rasa trauma dari tiap individu. Acara ini pun menjadi ruang interaksi semua kalangan untuk ikut bersolidaritas, mulai dari Seniman, Musisi, Aktivis, dan lainnya dengan tujuan yang sama, yaitu membersamai warga Dago Elos untuk tumbuh dan berkembang di tanahnya sendiri, meski setan tanah terus membayangi.
Acara ini menjadi pengalaman yang tak bisa dilupakan untuk beberapa audiens, juga membuat sadar pada masyarakat lainnya terutama mengenai konflik agraria yang telah terjadi pada beberapa daerah. Randika, salah satu audiens yang hadir dalam pertunjukan teater ini menilai bahwa kita harus sadar akan hal ini, ia langsung hadir dan menyaksikan langsung bagaimana warga Dago Elos mempertahankan ruang hidupnya.
“Dari saya pribadi karena mengenai soal isu Dago Elos bukan isu yang baru, maksudnya udah lama juga dan masih hangat isunya. Jadi pengen terjun langsung karena pengen liat juga situasi gimana situasi warga Dago Elos untuk mempertahankan tanahnya.” ujarnya.
Menurutnya ia hadir ke Dago Elos bukan untuk sekedar menyaksikan penampilan teater, namun ia ingin berinteraksi secara langsung dengan warga Dago Elos mengenai isu yang telah terjadi.
Dalam pertunjukan tersebut yang diperankan oleh anak-anak, menggambarkan bahwa anak-anak pun terkena dampak dari perilaku beringas aparat pada kejadian tiga tahun silam. Namun, mereka melawan, mereka tak diam, mereka tak rela jika ruang untuk mereka tumbuh, bermain, hidup, dirampas oleh mafia tanah. Randika Yolanda mengatakan bahwa anak-anak yang bermain teater itu adalah sebagai simbol perlawanan.
“Dari saya pribadi sih melihat anak anaknya gitu ya, maksudnya seumuran mereka yang harusnya hanya bermain dengan teman-temannya tapi bisa sadar dengan hal-hal yang terjadi di lingkungannya. Cukup memukul sebenarnya untuk kita kita semua, maksudnya dalam hal memperjuangkan hak-hak yang bisa disebut telah direnggut oleh negara, mereka bisa sadar dan mau bersama-sama untuk membersamai tanah tempat tinggal mereka.” jelasnya.
Hal serupa disampaikan oleh kawannya yaitu Fahri Rajan sebagai teman kuliah Randika Yolanda, kurang lebih ia menilai sama bahwa anak-anak adalah simbol perlawanan, ia harap perlawanan ini menular ke daerah-daerah lainnya yang juga mendapati peristiwa serupa seperti Dago Elos ini.
“Mungkin sama ya melihatnya sebagai simbol perlawanan warga Dago Elos ini, dan juga perlawanan itu bisa menular ke daerah-daerah lain yang sedang tertindas. Karena banyak juga kasus seperti ini yang penggusuran tanah jadi untuk menyadarkan warga-warga yang sedang digusur, agar mempertahankan tanah mereka itu sendiri.” ujar Fahri.
Di balik suksesnya acara ini, ada kerja sama kolektif antar komunitas yang terlibat untuk mensukseskan acara ini. Perwakilan inisiator acara dari Aliansi Rakyat Anti Penggusuran yaitu Acil, sebagai penginisiasi atas jalannya pertunjukan teater anak-anak ini menjelaskan mengapa anak-anak yang bermain peran dalam teater ini. Alasannya sederhana karena anak-anak kecil inilah yang berinisiatif untuk mengikutinya.
“Kita milih anak-anak sebenarnya waktu itu karena orang tua, orang dewasanya lagi sibuk dan tidak ada kesempatan untuk mengikuti teater ini dan kebetulan anak kecil ini bersedia untuk mengikuti teater ini dan mereka sangat sangat inisiatif untuk mengikutinya kaya ‘aku pengen ikut teater’, jadi alasannya karena mereka yang mau, karena anak kecil nya yang mau, inisiatif anak kecilnya yang mau.” jelasnya.
Alasan lainnya untuk memilih anak-anak bermain teater adalah untuk menunjukan pada masyarakat luas bahwa rakyat akan lebih kuat jika bersatu, bekerja sama, saling bantu, sebab jika bergantung pada pemerintah setempat mau sampai kapan kita terus ditindas, diabaikan pemerintah, dan disini pun dapat disimpulkan bahwa peran pemerintah negara disini hilang dan bahkan sudah tak dibutuhkan lagi.
“Supaya kita menunjukan pada khalayak masyarakat supaya kekuatan rakyat tuh bisa dibangun lewat solidaritas antar rakyat,lewat saling membantu antar rakyat, karena kita sudah tak bisa percaya lagi sama pemerintah pada saat ini dan satu satunya kekuatan yang bisa dibangun ya antar rakyat bekerja sama, dengan adanya teater ini ya saya berharap solidaritas warga dago elos dan warga penggusuran lainnya tuh terhubung dan saling menguatkan, apalagi kalo kita lihat sekarang gitu udah banyak sekali masalah konflik agraria dan titiknya banyak, kalo misalnya titik titik itu terhubung dan saling membantu bisa jadi kita kuat untuk melawan pemerintah tersebut bahkan kita ga butuh negara sekalipun lah kita punya ruang otonom masing masing.” ujarnya.
Acara ini mengajak kita untuk menyelam lebih dalam mengenai kasus-kasus penggusuran tanah, adapun keinginan kecil dari inisiator acara ini pada anak-anak kecil warga Dago Elos untuk merawat ingatannya akan peristiwa yang telah terjadi sejak tiga tahun silam.
”Kita ingin mewariskan ingatan, yang kita ingin rawat kedepannya ke generasi selanjutnya, karena merawat ingatan itu adalah salah satu pr yang lumayan cukup riskan jika kita melupakan sesuatu, bahkan kita bisa jadi lupa nama nama yang pernah dibunuh polisi sama tentara kebelakang, kita lupa kejadian kejadian tersebut kita lupa bahwa sekarang tuh banyak sekali masyarakat yang terdampak akibat penggusuran, dan untuk membuat masyarakat yang lain melek mungkin salah satunya kita percaya lewat teater gitu dari situlah.” pungkas Acil.
Editor: Zidan Al-Afgani
