Carpe Diem: Keberanian Akan Menjalani Hidup yang Kita Pilih/Ketika Hidup Meminta Kita Memilih
(Sumber Foto: hollywoodreporter.com)
Oleh: Muhamad Ashka Maulana Fahmi
Disutradarai oleh Peter Weir, Dead Poets Society merupakan film drama yang dirilis pada tahun 1989 dan berlatar di Welton Academy, sebuah sekolah bergengsi yang menjunjung tinggi tradisi, disiplin, dan prestasi. Di tengah lingkungan yang serba teratur itu, hadir John Keating, seorang guru sastra yang mengajarkan murid-muridnya untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Melalui puisi dan cara mengajar yang tidak biasa, Keating tidak hanya mengajak mereka memahami sastra, tetapi juga mempertanyakan banyak hal yang selama ini diterima begitu saja. Dari sekian banyak dialog yang lahir dari film tersebut, ada satu ungkapan dalam bahasa Latin yang terus bertahan hingga hari ini: Carpe Diem.
“Petiklah hari ini.”
Anehnya, setelah film itu selesai, yang terus menetap di kepala bukanlah kalimat tersebut.
Melainkan seorang guru yang berdiri di atas meja.
Awalnya, adegan itu terlihat sederhana. John Keating meminta murid-muridnya naik ke atas meja dan melihat ruang kelas dari tempat yang berbeda. Tidak ada adegan yang dibuat berlebihan, tidak ada dialog panjang yang berusaha terdengar filosofis. Namun, karena kesederhanaannya adegan tersebut terasa sulit meninggalkan ingatan. Meja itu kehilangan fungsinya sebagai tempat meletakkan buku. Ia berubah menjadi sebuah simbol bahwa dunia yang sama bisa terlihat berbeda ketika sesorang berani mengubah cara memandangnya.
Semakin lama dipikirkan, semakin terasa bahwa Carpe Diem bukan sekedar ajakan menikmati hidup sebelum waktu habis. Rasanya, makna itu terlalu sempit untuk sebuah ungkapan yang masih terus dibicarakan lebih dari tiga puluh tahun setelah film ini dirilis.
Barangkali, Carpe Diem bukan sedang berbicara tentang waktu.
Ia sedang berbicara tentang keberanian.
Keberanian untuk memilih.
Keberanian untuk berkata, “ini hidup yang ingin saya jalani.”
Kalimat itu terdengar sederhana ketika dibaca. Kenyataanya, kalimat itu menjadi salah satu hal yang paling sulit dilakukan. Sebab sejak kecil, kita terbiasa mendengar bagaimana hidup seharusnya dijalani. Ada jalan yang dianggap paling aman, ada pilihan yang dinilai paling benar, dan ada ukuran-ukuran keberhasilan yang seolah berlaku untuk semua orang. Tanpa sadar, banyak keputusan akhirnya lahir bukan karena benar-benar diinginkan, melainkan karena terasa paling sedikit risikonya.
Di titik itulah saya mulai bertanya.
Jangan-jangan hidup kita selama ini bukan sedang dijalani.
Tapi sedang dijaga supaya tidak mengecawakan siapa-siapa.
Kalimat itu terdengar keras.
Namun, bukankah banyak keputusan yang akhirnya tidak pernah benar-benar lahir karena rasa takut? Takut mengecewakan orang tua. Takut dianggap gagal. Takut memilih jalan yang berbeda. Takut menanggung konsekuensi dari pilihan sendiri. Perlahan, rasa takut itu tidak lagi sekedar mengingatkan kita untuk berhati-hati. Ia berubah menjadi kompas yang menentukan ke mana hidup harus dibawa.
Aneh ya?
Kita sering mengatakan bahwa hidup ini adalah milik kita.
Namun, ketika tiba saatnya menentukan arah, suara orang lain justru terdengar lebih nyaring daripada suara diri sendiri.
Barangkali, itulah yang sebenarnya ingin ditunjukkan John Keating ketika meminta murid-muridnya berdiri di atas meja. Ia tidak sedang mengajarkan mereka menjadi pemberontak. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dengan langkah yang besar. Terkadang, perubahan dimulai ketika seseorang berani melihat hidup dari tempat yang belum pernah ia pijak sebelumnya.
Pandangan penulis, Carpe Diem bukan tentang hidup sesuka hati ataupun mengabaikan aturan yang ada. Justru sebaliknya, Carpe Diem adalah keberanian untuk mengambil kendali atas hidup sendiri. Berani memilih, berani bertanggung jawab, dan berani menerima bahwa setiap pilihan akan selalu membawa konsekuensinya masing-masing. Sebab pada akhirnya, yang menjalani hidup ini bukan orang lain.
Melainkan diri kita sendiri.
Kegagalan mungkin masih bisa diperbaiki.
Kesalahan bisa menjadi pelajaran.
Bahkan penyesalan pun, cepat atau lambat, akan menemukan caranya sendiri untuk diterima.
Namun, menjalani hidup yang sejak awal tidak pernah benar-benar dipilih, mungkin menjadi penyesalan yang paling sunyi. Penyesalan yang tidak datang sekaligus, tetapi tumbuh perlahan setiap kali bertanya, “Bagaimana kalau dulu memilih jalan yang benar-benar diinginkan?”
‘Carpe Diem.’
Dua kata yang sering diterjemahkan sebagai “petiklah hari ini.”
Namun, setelah merenungkan film ini, rasanya makna itu berubah.
Barangkali yang benar-benar perlu dipetik bukan harinya.
Melainkan keberanian untuk menjalani hidup yang memang kita pilih sendiri.
Sebab pada akhirnya…
Kalau hidup ini memang milik kita, mengapa begitu banyak keputusan justru lahir dari ketakutan terhadap orang lain?
Editor: Zidan Al-Afgani
