Menafsir Eksperimen “MYPRIDE” Di Persimpangan Fashion Dan Musik

(Sumber Foto: @lucasbenedicts/Press Release)

Oleh: Habib Al ‘ Arif

Bandung punya perjalanan panjang dalam membentuk identitas fashion anak muda. Dari kultur distro yang tumbuh bersama komunitas musik independen dan sepak bola, pakaian perlahan berkembang menjadi lebih dari sekadar kebutuhan. Ia menjadi bahasa tanpa suara, cara seseorang memperlihatkan selera, bahkan sikap terhadap lingkungan sekitarnya. Dari ruang-ruang inilah semangat untuk tampil berbeda tumbuh dan ikut membentuk karakter fashion Bandung, sekaligus menjadikannya salah satu ruang berkembangnya kreativitas brand lokal.

Namun, di tengah tren yang terus berganti, tampil berbeda saja rasanya tidak lagi cukup. Brand lokal dituntut memiliki gagasan yang kuat agar tidak sekadar mengikuti arus pasar. Di tengah situasi tersebut, MYPRIDE, brand asal Bandung, hadir melalui rilisan terbarunya, LAB 02: SONIC INSIGNIA. Proyek ini membawa sebuah pertanyaan menarik, bagaimana jika jaket tidak hanya menjadi pakaian, tetapi juga mampu menghasilkan bunyi dan terlibat dalam penciptaan musik?

Nama ‘Sonic Insignia’ sendiri diambil secara literal. “Insignia itu kan identik dengan badge atau identitas, sedangkan Sonic itu berkaitan dengan bebunyian. Jadi penamaan ‘Sonic Insignia’ memang bisa diartikan secara literal sebagai badge yang bisa mengeluarkan bunyi,” ujar Bikry, Creative Director MYPRIDE.

Lebih dari Fungsi

Selama ini, jaket lazim dipahami melalui apa yang nampak, potongan, bahan, warna, serta citra yang melekat pada pemakainya. Namun, LAB 02: SONIC INSIGNIA mencoba menggeser cara pandang tersebut. Alih-alih berhenti pada bentuk visual, MYPRIDE menjadikan jaket sebagai titik berangkat untuk menelusuri kemungkinan lain dari sebuah material. Pakaian yang biasanya bersentuhan dengan tubuh kini turut memasuki wilayah bunyi, membuka pertemuan antara sesuatu yang dikenakan dan sesuatu yang didengarkan.

Tentunya gagasan itu berangkat dari pengamatan sederhana terhadap karakter material, “Premisnya sederhana, kalau besi itu kan bisa menghasilkan suara lebih nyaring daripada karet. Dari sana, kenapa nggak sekalian aja kita bikin jaketnya juga bisa mengeluarkan suara? Setelah riset dan dibantu juga oleh Duelizm Void dan Faqih Allawi, akhirnya ketemu formula bagaimana jaket tersebut bisa mengeluarkan suara untuk kemudian diolah menjadi musik,” tambahnya, sebagaimana dikutip dalam press release.

Bagi saya, LAB 02: SONIC INSIGNIA dapat ditafsirkan menjadi sarana upaya memperluas makna fashion itu sendiri. Identitas sebuah produk tidak lagi hanya dibangun melalui tampilan visual, tetapi juga melalui konsep dan pengalaman yang ditawarkan. Eksperimen ini memperlihatkan bahwa material pakaian memiliki kemungkinan untuk melampaui fungsi yang selama ini kita kenal.

Bandung dan Keberanian untuk bereksperimen

Eksperimen MYPRIDE tidak berdiri di ruang hampa. Bandung memiliki ekosistem kreatif yang tumbuh di berbagai sudut kota, mulai dari musik, seni visual, hingga fashion independen. Dalam lingkungan semacam ini, kreativitas kerap lahir ketika pelakunya berani keluar dari arus utama dan merumuskan cara pandangnya sendiri.

LAB 02: SONIC INSIGNIA menjadi salah satu bentuk kelanjutan dari semangat eksperimental Bandung. Jika selama ini musik kerap menjadi inspirasi dalam desain pakaian, MYPRIDE justru membalik hubungan tersebut dengan menjadikan jaket sebagai instrumen untuk menghasilkan bunyi yang kemudian diolah menjadi musik. Pertemuan ini membuka kemungkinan baru dalam hubungan antara fashion dan musik, bukan hanya sebagai dua produk budaya yang saling memengaruhi, tetapi juga sebagai medium yang dapat saling melengkapi.

Bagi brand lokal, pendekatan semacam ini membuka peluang untuk membangun karakter melalui gagasan, bukan sekadar mengikuti pergantian tren. Namun, tantangannya bukan hanya menciptakan sesuatu yang berbeda, melainkan menghadirkan konsep yang memiliki makna dan pengalaman bagi audiensnya.

Pada akhirnya, LAB 02: SONIC INSIGNIA memperlihatkan bahwa fashion masih memiliki ruang untuk melampaui bentuk dan fungsi yang selama ini kita kenal. Melalui pertemuan material, bunyi, dan musik, MYPRIDE tidak hanya menjual identitas melalui visual, namun mencoba membangun identitas melalui persimpangan fashion dan musik. Sebab, ketika pakaian mampu menghasilkan bunyi, ia tak lagi sekadar menjadi penanda identitas visual, melainkan turut mengambil bagian dalam sebuah komposisi yang dapat didengar, dirasakan, dan ditafsirkan.

Editor: Zidan Al-Afgani