Konferensinema 2025: Kolaborasi Mahasiswa dalam Menghidupi Ruang Sinema
(foto: Asep Andika/KMjurnalistik.com)
Oleh: Habib Al’Arif
HIMA Televisi dan Film Universitas Padjadjaran (UNPAD) kembali menggelar Konferensinema 2025, ajang diskusi mengenai film yang berkolaborasi bersama mahasiswa Fakultas Televisi dan Film Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Dengan tema “Mozaik Sinema” yang mempersatukan berbagai genre film dalam satu ruangan yang sama.
Acara ini berlangsung di Auditorium Museum Sri Baduga, Jl. BKR No.185, Bandung, pada Minggu (9/11). Acara ini menampilkan 7 karya film mahasiswa dari berbagai genre, selain menonton film, pengunjung juga dapat menikmati talkshow serta mendapatkan networking session, dan juga talkshow dengan Aco Tenriyagelli selaku Film Director. Acara ini bertujuan untuk menjadi ajang membangun relasi antara komunitas perfilman di bandung, serta memberi wawasan baru didalam industri perfilman bersama Aco Tenriyagelli.
“Saya ingin berkolaborasi, dan saya ingin mengumpulkan para pembuat film, dari kalangan pelajar, dari siswa SMK. Ada juga film untuk siswa SMK, dan seniman muda, yang ingin terus berkarya.” Ujar Radhitia Raihan Syakir selaku project officer.
Panitia berharap kedepannya acara ini dapat menjadi ajang kolaborasi dalam dunia film untuk memicu lahirnya karya-karya film yang berkelanjutan dan membentuk komunitas film yang solid.
Radhitia Raihan Syakir menjelaskan bahwa acara ini memiliki makna penting bagi HIMA Televisi dan Film UNPAD, khususnya bagi divisi Hubungan Eksternal yang menjadi penggerak utama kegiatan ini. “Bagi saya, Konferensinema ini memiliki potensi besar karena konsepnya segar dan membuka peluang kolaborasi yang luas,” ujarnya. Ia juga menuturkan bahwa dalam proses penyelenggaraan, tantangan terbesar terletak pada penyesuaian linimasa dengan mitra kolaborasi, namun secara teknis seluruh kegiatan berjalan lancar. “Kita memang harus menyesuaikan jadwal terlebih dahulu sebelum mulai bekerja, tapi sejauh ini semua aman,” tambahnya.
Selain itu, Aco Tenriyagelli mengatakan bahwa acara seperti konferensinema ini sangatlah positif terhadap keberlangsungan mahasiswa yang memiliki minat dalam industri film.
“ya tentu positif banget gitu, maksudnya aku juga kan tumbuh di komunitas, jadi acara-acara kaya gitu tuh selalu jadi yang di tunggu, karna biasanya pasti ketemu dengan filmmake-filmmaker yang sudah punya karir di industri,” ujarnya.
Acara inipun menjadi sebuah ajang para audiens untuk bertanya secara langsung dan tentunya kepada film maker muda untuk terus berkembang. ”Biasanya di acara kaya gini kita punya kesempatan untuk bertanya langsung gimana sih cara mereka bisa terlibat dan bikin sesuatu, itukan kesempatan yang baik buat kita tumbuh sebagai filmmaker dari komunitas,” ujarnya.
Aco Tenriyagelli pun mengharapkan, “Mungkin kedepannya jumlah film yang yang dikurasi dapat lebih banyak lagi dan menghadirkan lebih banyak sineas untuk berbagi pengalaman, agar ruang-ruang seperti Konferensinema terus menjadi tempat yang hidup bagi perkembangan perfilman mahasiswa.”
Meskipun akses ke acara ini terbuka secara umum tanpa dipungut biaya. Namun, pengunjung tetap perlu mendaftar secara daring melalui laman resmi yang diberikan oleh penyelenggara acara tersebut. Antuasiasme terlihat tinggi, dengan banyaknya mahasiswa dari berbagai Universitas di Bandung yang hadir untuk menonton sekaligus berdiskusi.
Salah satu pengunjung, Febi, selaku mahasiswa Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati Bandung, mengaku terkesan dengan keseluruhan rangkaian acara. Ia menilai pemutaran tujuh film mahasiswa memberikan pengalaman menonton yang beragam dan menarik.”Menurut aku ini keren banget, karena bukan cuma satu film yang ditayangin, tapi tujuh, dan dari segi scene, sound, dan lainnya udah keren banget, panitianya juga humble banget,” ujarnya.
Febi juga menuturkan bahwa acara ini membuat rasa ingin tahunya terhadap dunia film semakin meningkat.“Dari sini juga, kaya rasa aku dalam perfilm an tuh makin meningkat, makin banyak penasaran-penasaran, ntah dari saat syuting nya dan segala macem, itu membuat aku penasaran di dunia perfilm an,” tambahnya.
Lebih dari sekedar ajang pemutaran film, Konferensinema 2025 menjadi momentum untuk mahasiswa di bidang Televisi dan Film untuk berpartisipasi menampilkan kreativitas dalam sebuah karya film.
