Menteri HAM Tinjau Unisba, Respons Insiden Gas Air Mata di Kampus
(Foto: Dendi Ardiansyah/KMJurnalistik.com)
Oleh: Rafli Fitrananda Alsa
Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai meninjau Kampus Universitas Islam Bandung pada Kamis, 4 Septermber 2025. Dia merespon insiden yang terjadi di kampus Unisba saat aparat menembakkan gas air mata sejak dua hari yang lalu.
Kedatangan Natalius Pigai ke Kampus Unisba bermaksud untuk memastikan kebebasan akademik tetap pada jalurnya.
“Saya sebagai Menteri HAM datang ke sini bertemu pa rektor, ibu wakil rektor, dan di kampus ini ingin memastikan dan menempatkan kebebasan akademik tetap terjaga karena termasuk dalam astacita presiden Prabowo” ujar Natalius Pigai
Selain itu, ia pun berencana menemui untuk memastikan para korban dari aksi unjuk rasa di Polda Jawa Barat, karena beliau sudah berbicara dengan Kapolri yaitu, Listyo Sigit Prabowo untuk menjamin keselematan dan kesehatan para korban yang ditahan di Polda Jabar
“Jadi saya mau ke polda untuk melihat mereka yang ditahan apakah dalam keadaan sehat dan sudah bisa dipulangkan karena kemarin saya sudah ketemu dengan pak kapolri tujuannya untuk mereka yang ditahan agar terjamin kesehatannya” ujar Pigai dalam wawancaranya dengan para awak media di Unisba.
Setelah aksi demonstrasi yang dilakukan pada hari Senin, 1 September 2025, Banyak massa aksi yang ditangkap aparat. Dia mengatakan bahwa hak ibadah, kebutuhan daripada hidupnya, hingga kesehatan pun harus terjamin semasa ditahan. Karena itu dia akan berkunjung ke Polda Jabar.
Kemudian ia menyinggung soal total korban saat aksi demonstrasi di Indonesia, dia pun berbicara banyak karena masih dalam pendataan. Natalius Pigai meminta agar Kepolisian Indonesia agar dapat membedakan antara massa aksi demonstran dan perusuh.
“Saya yakin yang demonstran ini banyak mungkin yang sudah dikembalikan sebagian besar. Tapi, kalau perusuh itu tergantung daripada tindakan dia apa. Namun, polisi harus transparan atas apa yang dituduhkannya,” ujar Natalius Pigai Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Indonesia.
Editor: Dzikrie Tyasmadha
