Jikalau Kartini Hidup di Zaman Ini, Mungkin menjadi Aktivis X
RA Kartini(sumbe fotor: WIKIMEDIA COMMONS/GPL FDL)
Oleh: Nawal Nabillah
Setiap memasuki bulan April, nama Kartini selalu menjadi trending di berbagai aplikasi media sosial, khususnya Instagram, Tiktok dan X. Timeline pun dipenuhi oleh berbagai tren konten yang relevan dengan Hari Kartini. Tren tersebut akan dikemas berbeda di setiap tahunnya. Contohnya seperti ucapan manis, potret berkebaya dengan gaya yang mengikuti zaman hingga berbagai kutipan surat – surat Kartini. Namun setelah melewati tanggal 21, dunia kembali sibuk. Padahal, Kartini nggak pernah benar – benar pergi. Beliau hidup pada raga perempuan yang memiliki keberanian untuk bersuara. Beliau ada di balik setiap karya seniman perempuan yang berani mengusik norma. Beliau pun hadir pada ruang – ruang kecil seperti di rumah, kampus, tempat kerja bahkan pada dunia maya sekalipun.
Era digital telah membawa perubahan masif dalam cara manusia hidup, bekerja, belajar, dan berinteraksi. Akan tetapi yang menarik, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh generasi muda yang tumbuh bersama teknologi. Generasi yang lebih tua pun ikut terdampak, meski dalam bentuk yang berbeda. Dan yang paling menonjol adalah cara perempuan dari berbagai usia mengakses, merespons, dan memanfaatkan teknologi.
Bagi generasi muda, teknologi adalah medium utama untuk membentuk identitas, menyalurkan ide, dan membangun komunitas. TikTok bukan cuma hiburan akan tetapi menjadi ruang edukasi. Instagram menjadi galeri karya. X (atau Twitter) jadi ruang advokasi. Mereka pakai teknologi untuk berbicara mengenai tubuh, gender, budaya, patriarki, toxic relationship, kesehatan mental, dan kesetaraan dengan cara yang relate dan masif.
Sementara itu, perempuan generasi lebih tua, seperti Gen X dan Boomers, mulai menjelajah ruang digital dengan cara mereka sendiri. Dulu mereka tumbuh di dunia yang jauh lebih terbatas aksesnya yang mungkin dianggap “gaptek”, Namun, era digital ini memaksa sekaligus memberi peluang untuk berenang mengikuti arus ombak, seperti mengikuti kelas online, jualan lewat WhatsApp, bahkan membuat konten DIY di Facebook atau YouTube. Fenomena ini bukanlah sekadar adaptasi, tapi bentuk nyata dari keinginan untuk terus belajar dan berkembang. Semangat yang persis seperti yang Kartini perjuangkan dulu: pendidikan untuk semua perempuan, sepanjang hayat.
“Kartini Kalau Hidup Sekarang, Mungkin Dia Aktivis X (Dulunya Twitter)”
pernyataan ini mungkin bisa menjadi kenyataan jikalau Kartini hidup di zaman ini. Bagaimana tidak? Media sosial telah menjadi platform komunikasi era digital yang memungkinkan untuk para perempuan dengan berbagai latar belakang untuk bersuara, memperjuangkan hak dan kesetaraan hingga menunjukan eksistensi diri. Hal ini sangatlah penting karena dapat menjadi solusi dari penurunan proporsi perempuan dalam industri media dan jurnalisme. Menurut data yang dirilis oleh Women’s Media Center proporsi perempuan dalam industri media dan jurnalisme termasuk di media cetak, televisi, dan jurnalisme Daring berada di angka 44.7% pada 2019 dan angka ini merupakan penurunan sebesar 0.2% dari tahun sebelumnya (Ogilvy & Mather, 2019).
Selain itu, dunia maya dapat menjadi tempat aman untuk kebebasan bersuara bagi para perempuan dibandingkan di dunia nyata yang dipenuhi dengan batasan seperti norma, hukum, budaya dan respon orang sekitar yang mengintimidasi secara sengaja ataupun tidak, atau mungkin bisa berujung kriminalitas. Meskipun dalam dunia maya memiliki aturan tersendiri namun suara perempuan dapat lebih disebarluaskan kepada khalayak secara cepat dan menyeluruh dan tak jarang dapat memicu para perempuan lain untuk ikut bersuara. Terbayang kan bagaimana jikalau Kartini ada pada zaman ini? Mungkin beliaulah yang selalu membuat gerakan ataupun kampanye yang pastinya akan menjadi trending.
Masih berandai – andai jikalau Kartini hidup di zaman ini. Jikalau dahulu beliau menyurati Stella di Belanda, mungkin pada zaman ini beliau bukan hanya penulis surat, melainkan menjadi penulis blog feminis, aktivis media sosial, atau editor platform edukasi yang fokus pada perempuan dan anak muda. Beliau mungkin akan lebih sering ditemukan sedang mengetik di laptop daripada di meja tulis, ikut Zoom seminar lintas negara, atau bahkan jadi guest speaker TEDx dengan tema “Merdeka Sebelum Menikah.” atau bahkan beliau lebih sering Work From Cafe?
Kartini bisa saja punya akun X (Atau Twitter) dengan thread panjang soal pentingnya pendidikan berdasarkan empati. Instagram-nya dipenuhi carousel post tentang sejarah perempuan nusantara, dan di bio-nya tertulis: Jepara, Indonesia | Education & Equality | Open DM for Collab
TikTok-nya? Kombinasi antara lip-sync quotes berbahaya dan video pendek soal ketimpangan sosial yang dibawakan dengan gaya estetik tapi menggigit. Tak lupa dengan Live Streaming untuk Focus Group Discussion (FGD).
Namun mungkin Kartini akan tetap merasa gelisah karena meski dunia maya memberi ruang luas untuk berekspresi, perempuan tetap menghadapi tantangan yang tak sedikit saat bersuara. Mereka rentan menjadi target pelecehan dan kekerasan siber, mulai dari komentar seksis hingga ancaman serius. Suara perempuan juga kerap dianggap terlalu emosional, padahal yang disampaikan seringkali justru penuh empati dan pengalaman personal. Standar ganda pun masih terjadi pendapat yang sama bisa dianggap “tegas” kalau datang dari laki-laki, tapi “galak” kalau diungkapkan perempuan.
Selain itu, ekspektasi sosial juga membebani para perempuan harus tampil bijak, sopan, menarik, tapi tidak berlebihan sebuah standar yang nyaris mustahil dipenuhi. Di balik layar, algoritma media sosial kadang membatasi jangkauan konten perempuan, terutama jika menyangkut isu-isu sensitif seperti feminisme atau kekerasan seksual. Dan saat kekerasan digital terjadi, perlindungan hukum sering kali belum sigap atau berpihak. Semua ini menunjukkan bahwa meskipun platform digital semakin terbuka, keberanian perempuan untuk bersuara masih perlu dilindungi, didukung, dan dipahami bersama.
Namun satu hal pasti: Kartini tidak akan tinggal diam. Karena dari dulu sampai sekarang, diam bukan pilihan untuk perempuan yang peduli. Dan di zaman ini, ketika suara bisa menjangkau ribuan orang hanya dalam hitungan menit, Kartini akan tahu bahwa perjuangannya memiliki banyak sekutu.
Hari Kartini tidak hanya sekadar peringatan kelahiran seorang tokoh wanita hebat, tidak hanya tentang sejarah, bahkan tidak hanya tanggal di kalender atau lomba berkebaya di sekolah. Lebih dari itu, hari Kartini menjadi momentum untuk melihat kemajuan yang telah dicapai oleh wanita Indonesia di berbagai bidang, sekaligus menyadari tantangan-tantangan yang masih ada dalam mewujudkan kesetaraan gender sepenuhnya.
Semangat Kartini tentang pendidikan, kemandirian, dan keberanian untuk memperjuangkan hak-haknya terus relevan hingga saat ini. Kartini pernah menulis dengan pena dan kertas. Kita sekarang menulis lewat tweet, reels, dan obrolan grup. Tapi pesannya tetap sama, yaitu perempuan punya hak untuk bermimpi, bersuara, dan menentukan arah hidupnya sendiri. Maka dari itu semua hal besar dapat dimulai dari hal kecil seperti berani bicara, tidak takut akan perbedaan, dan percaya kalau suara kita itu layak didengar.Jadi jikalau hari ini kamu masih merasa kecil, tidak cukup hebat, atau belum “menjadi siapa-siapa”, ingatlah bahwa Kartini juga dulu cuma seorang perempuan muda yang gelisah, tapi beliau tidak hanya diam. Dan kamu, kita, siapa pun yang terus bergerak, berpikir, dan memilih untuk peduli adalah jejak-jejaknya yang hidup. Dia akan bangga melihat begitu banyak perempuan yang tetap memilih bersuara.
Editor: Dzikrie Tyasmadha
