Menyikapi Rencana Revitalisasi Lapangan Teuku Umar

(Foto: Raipa Dharma Wilarasa/KMJurnalistik.com)

Oleh: Alwaf Tahanuf El Hakim

Rencana revitalisasi Lapangan Teuku Umar di Jalan Teuku Umar, Kota Bandung, menuai penolakan dari komunitas sepak bola yang selama ini menggunakan fasilitas tersebut. Mereka meminta pemerintah tetap mempertahankan fungsi lapangan sebagai arena sepak bola, meskipun revitalisasi tetap dilaksanakan. 

Jerinaldy Irfan salah seorang perwakilan dari komunitas Teuku Umar Soccer Club, menegaskan penolakan revitalisasi tersebut bukan ditujukan sebagai bentuk perlawanan, melainkan untuk mempertahankan keberadaan lapangan. Informasi mengenai rencana pembangunan skatepark menjadi awal mula warga mengetahui akan adanya rencana peralihan fungsi lapangan tersebut.

“Kalau kita sebenarnya bukan aksi lebih ke melawan. Tapi kita tuh lebih aksi mempertahankan. Jadi awal mulanya berita-beritanya itu infonya, mau dibikin skatepark,” ujar Jerinaldy Irfan saat diwawancarai, pada Jumat (6/11).

Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti pihak yang mengelola lahan tersebut, karena ia melihat lapangan Teuku Umar sering digunakan oleh berbagai masyarakat sebagai fasilitas umum.

“Kalau untuk pengurus yang benar-benar yang punya lahan itu kita juga kurang tahu. Cuma sekarang itu ada info katanya DPKP yang ngurus. Kalau pengelolaannya emang nggak ada, karena kan kita mikirnya ini fasilitas umum ya,” terangnya.

Irfan menilai revitalisasi tidak menjadi persoalan selama fungsi dan ukuran lapangan tetap diperhatikan. Serta, pihaknya menginginkan lapangan sepak bola dipertahankan dengan permintaan ukuran lapangan sepak bola mini (mini soccer) berstandar nasional jika revitalisasi lapangan Teuku Umar dilakukan.

“Kalau misalkan disebutkan apa tuntutan kita nih sebagai emang yang memakai fasilitas tersebut, kita tetap minta lapangan sepak bola. Ya kalau misalkan mau direvitalisasi silahkan, mangga waé  itu mah. Tapi saya minta, kita bukan saya lah, kita minta lebih ke ukuran nasional,” jelasnya.

Di lain sisi, kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Bandung, Luthfi Firdaus menyampaikan akan adanya perubahan konsep dalam revitalisasi lapangan Teuku Umar sebagai tindak lanjut dari masukan dan aspirasi masyarakat setempat.

“Kesepakatannya, area skatepark yang 30 persen itu tidak jadi dilaksanakan. Area tersebut diganti menjadi communal space untuk tempat berkumpul warga,” ujar Luthfi Firdaus, dikutip dari laman resmi RMOL Jabar.

Namun irfan mengaku, ia beserta komunitasnya tidak dilibatkan dalam pertemuan wilayah tersebut yang turut mengundang sejumlah masyarakat dan pemerintah setempat.

“Kemarin tuh ada pertemuan wilayah. Yang diundangan ini kita juga up di media sosial kita. Yang di situ ada daftar undangan, dari Karang taruna Kecamatan, Kelurahan, RW-RW sekitar sini, terus LPM dan sebagainya. Nah, di daftar itu aja kita tuh nggak ada,” terang Jerinaldy Irfan.

Aktivasi akan terus dilakukan, dan dukungan untuk mempertahankan lapangan juga datang dari sejumlah komunitas. Irfan menyebut, puluhan anggota komunitas sepak bola dan mini soccer turut terlibat dalam kegiatan dan aktivasi yang dilakukan di lapangan tersebut.

“Kalau kita tetap aktivasi, karena kan kurang lebih ya, kurang lebih udah nyampe puluhan sih sebenernya kalau disebutin teman-teman dari komunitas main bola, komunitas mini soccer yang emang ikut,” jelasnya.

Untuk kedepannya Irfan beserta komunitasnya akan terus bergerak dan melakukan aktivasi di lapangan Teuku Umar sebagai upaya untuk mempertahankan lapangan tersebut.

“Jadi kalau kita tetap jalanin aktivasi tanpa maksudnya merusak atau rusuh, kita tetap main bola aja, fun aja. Dari sekarang sampai nantinya seperti itu,” pungkasnya

Editor: Zidan Al-Afgani