Menilik Catatan Peserta dan Panitia Ta’aruf Unisba 2026
(Foto: Alwaf Tahanuf El Hakim/KMJurnalistik)
Oleh: Alwaf Tahanuf El Hakim
Hari pertama Ta’aruf Universitas Islam Bandung (Unisba) 2026 dilaksanakan secara offline di Gedung Hj. Kartimi Kridhoharsojo dengan membawa tajuk “Beyond Intelligence: Islamic, Inclusive, and Impactful”, dan berlangsung cukup ramai di area kampus pada Senin (14/9). Di balik jalannya rangkaian acara dari pagi hingga sore hari, muncul beragam respons dan catatan dari para mahasiswa baru maupun panitia di lapangan.
Sejumlah mahasiswa baru mengaku terkesan dengan rangkaian acara hari pertama. Keshia Cery Fadhiah, mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Unisba, merasa materi yang disampaikan cukup membekali mahasiswa baru untuk mengenali lingkungan kampus.
“Alhamdulillah saya sangat senang bisa mengikuti acara Ta’aruf kali ini karena sangat menarik ya, banyak talkshow dan juga dapat materi dari dosen dan tamu undangan, hiburannya juga asyik,” tutur Keshia saat diwawancarai usai pelaksanaan Ta’aruf hari pertama, pada Senin (14/9) di depan gedung Fakultas Kedokteran.
Namun, di samping kesan positif, beberapa mahasiswa merasa ada hal yang perlu dievaluasi dari segi teknis acara.
Keshia menyoroti durasi talkshow yang dirasa terlalu singkat sehingga penyampaian materi terkesan terburu-buru. “Mungkin ke depannya pada saat sesi talkshow lebih dilamakan lagi waktunya, soalnya tadi cukup singkat jadi kurang puas dengarnya. Pemateri juga ada yang kesulitan karena keterbatasan waktu,” tambah Keshia.
Sedangkan Aisyah Shahla Sabira, mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Akuntansi Unisba, memberi masukan agar panitia menambahkan sesi pencair suasana di tengah padatnya jadwal. “Minta tolong adain ice breaking sih, soalnya kita kan duduk terus di situ kayak bosan kan, biar kitanya (peserta) lebih semangat lagi,” ujarnya.
Dari sudut pandang panitia, dinamika di lapangan menjadi tantangan tersendiri selama acara berlangsung. Irfan, anggota Korps Protokoler Mahasiswa (KPM) Unisba dari Fakultas Hukum Unisba, menjelaskan bahwa persiapan teknis sebenarnya sudah dimaksimalkan sejak sepekan sebelum hari-H. Meski begitu, kendala tak terduga seperti masalah alat komunikasi hingga perubahan rundown dari pihak universitas tetap terjadi.
“Kalau kendala pasti ada ya, kadang mesin HT (Handy Talky) enggak nyala, terus prosesi yang diubah-ubah. Kemarin kita revisi rundown sekali, terus di hari-H sekarang ternyata dari pihak universitas ada yang berubah lagi, jadi kita harus konfirmasi ulang,” jelas Irfan saat diwawancarai setelah Ta’aruf selesai dilaksanakan di Gedung Hj. Kartimi Kridhoharsojo pada hari yang sama.
Irfan juga mencermati kondisi area stand Organisasi Mahasiswa (Ormawa). Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini mahasiswa baru tidak diwajibkan mengumpulkan cap dari stand LKM/UKM, yang membuat tingkat kunjungan maba ke stand terbilang lebih sepi.
“…Sekarang mahasiswa ga terlalu banyak yang ke sana (stand) karena sekarang ga ada kewajiban cap. Nah, boleh tahun depan (Ta’aruf) adain lagi kewajiban cap biar rame lagi,” tambah Irfan.
Menanggapi hal tersebut, Anissa Aprilia Fairus dari Korps Protokoler Mahasiswa (KPM) juga berharap pelaksanaan Ta’aruf pada hari berikutnya bisa dikemas lebih menarik dan interaktif, meskipun dilaksanakan secara daring.
“Harapan aku sih ke depannya bisa lebih seru aja Ta’aruf-nya, apalagi hari keduanya online kan,” pungkas Anissa.
Editor: Zidan Al-Afgani
