PRAY FOR INDONESIA: BENCANA DALAM PURNAMA MERDEKA

(Sumber Foto: fwi.or.id)

Oleh: Raipa Dharma Wilarasa

Agustus kembali menyapa dengan harapan penuh sorak-sorai kegembiraan. Merah putih dibentangkan di seluruh penjuru negeri. Jalanan kembali dipenuhi dengan umbul-umbul yang menghiasi langit. Seketika pemuda di desa hingga kota berkumpul merencanakan berbagai perayaan untuk memperingati hari kemerdekaan, berharap Ibu Pertiwi tersenyum manis menyaksikan apa yang pemuda-pemudi sedang lakukan untuk negerinya. Semuanya menjadi tradisi yang terus berulang setiap tahunnya.

Namun, ekspresi wajah Ibu Pertiwi seketika berubah ketika seruan pray for kembali memenuhi lini masa ruang-ruang digital. Tanah yang berguncang hingga api yang menjalar menjadi tamparan di bulan kemerdekaan. Saat karung di tempat lain dijadikan alat yang diperlombakan, di Flores, Kalimantan, Papua, Sulawesi, dan Lombok, karung menjadi alat untuk mengangkut puing-puing kenangan yang tersisa dan memberikan secercah harapan untuk tetap hidup.

Api di Ujung Timur

Sejak 18 Juli 2026, api tak henti menjilati tanah Papua. Kebakaran hutan dan lahan melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, dan perlahan meluas ke tujuh distrik. Untuk kesekian kalinya, ruang hidup dan keamanan masyarakat Papua kembali terancam. Tercatat hingga 23 Agustus 2026, si jago merah telah menghanguskan ratusan hektare lahan dan masih menyisakan titik api yang belum dapat dijangkau untuk dipadamkan.

Kepulan hitam membatasi ruang gerak masyarakat. Di Nabire, kebakaran lahan di sekitar Bandara Douw Aturure membuat jarak pandang menurun hingga mengganggu penerbangan. Dua penerbangan harus dibatalkan. Di tengah upaya menjinakkan si jago merah, masyarakat dan petugas harus berhadapan dengan keadaan yang tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga aktivitas yang selama ini mereka jalani.

Bukan hanya soal hamparan lahan yang terbakar, melainkan rasa tenang yang terkikis ketika kepulan hitam bertebaran di udara. Udara yang semestinya tak menjadi persoalan kini datang membawa kecemasan. Setiap kepulan seolah menjadi tanda bahwa si jago merah belum benar-benar padam.

Serupa cenderawasih yang habitatnya semakin terkikis, masyarakat Papua pun kini harus berjuang untuk mempertahankan ruang hidupnya. Pilu rasanya ketika melihat Papua yang semula menjadi Surga untuk makhluk hidup, kini justru membuat para penghuninya harus mencari ruang untuk bertahan hidup. Sebuah ironi, mengingat Bumi Cenderawasih yang tak henti diselimuti konflik, kini kembali harus berhadapan dengan ancaman yang menggerus ruang hidupnya. Sementara mereka yang duduk di balik meja kekuasaan seharusnya tak hanya menunggu api membesar untuk kemudian sibuk memadamkannya.

Api Menjalar Tanah Kalimantan

Belum selesai api mengancam tanah Papua, Kalimantan kembali berhadapan dengan kobaran yang serupa. Pada 19 Juli 2026, kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan. Di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, sekitar lima hektare lahan terbakar. Tak lama berselang, kebakaran juga terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur, dengan lahan terdampak mencapai sekitar 35,2 hektare. Api kembali menjalar di tanah yang semestinya menjadi rumah bagi begitu banyak kehidupan.

Asap perlahan mengambil alih ruang yang selama ini menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Bukan hanya hutan dan lahan yang terbakar, tetapi udara yang semestinya dapat dihirup tanpa rasa khawatir. Di tengah musim kemarau yang membuat lahan semakin mudah terbakar, masyarakat kembali harus berhadapan dengan ancaman yang datang dari lingkungan tempat mereka tinggal. Ketika api membesar, yang dipertaruhkan bukan hanya luas wilayah yang terbakar, tetapi juga rasa aman orang-orang yang hidup di sekitarnya.

Bukan hanya soal hamparan hutan yang berubah menjadi abu, melainkan tentang ruang hidup yang kembali kehilangan perlindungannya. Ada masyarakat yang harus berhadapan dengan asap, ada pula lahan yang kehilangan kesuburannya, dan ada hutan yang perlahan kehilangan kehidupan di dalamnya. Hingga Agustus 2026, kebakaran di Kalimantan Barat saja telah mencapai sekitar 38 ribu hektare sejak awal tahun. Angka tersebut bukan sekadar hitungan dalam laporan, melainkan jejak dari ruang hidup yang sedikit demi sedikit terkikis oleh si jago merah.

Serupa paru-paru yang terus dipaksa menghirup asap, Kalimantan kembali harus bertahan dari sesuatu yang berulang setiap musim kemarau. Tanah yang kaya akan hutan dan lahan gambut justru berkali-kali dipaksa berhadapan dengan kobaran api. Ironis rasanya ketika hutan yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan justru terus berada dalam ancaman yang sama. Sementara mereka yang memiliki kuasa untuk menjaga dan mencegahnya seharusnya tidak hanya hadir ketika api telah membesar, tetapi memastikan agar masyarakat tidak terus-menerus menjadi pihak yang harus belajar bertahan dari bencana yang berulang.

Api Menyapa Tanah Sulawesi

Dari Kalimantan, kabar tentang api kembali bergerak ke Sulawesi. Kebakaran hutan dan lahan kembali muncul di sejumlah wilayah Sulawesi, menambah panjang daftar daerah yang harus berhadapan dengan kobaran api di tengah bulan kemerdekaan. Api tidak mengenal batas wilayah. Ia menjalar dari lahan yang satu menuju lahan lainnya, meninggalkan bekas hitam di tempat yang sebelumnya dipenuhi hijau.

Namun, kebakaran di Sulawesi bukan sekadar cerita tentang api yang datang lalu pergi. Di balik kobaran tersebut, ada kehidupan masyarakat yang tetap harus berjalan di tengah ancaman yang belum sepenuhnya hilang. Kebakaran bukan sekadar peristiwa yang muncul dalam pemberitaan, melainkan sesuatu yang hadir di sekitar ruang tempat mereka hidup dan mencari penghidupan.

Barangkali karena terlalu sering terjadi, api perlahan kehilangan sifat mengejutkannya. Kebakaran datang, ditangani, kemudian berlalu bersama musim hujan. Setelah itu, kehidupan kembali berjalan seperti semula, sampai musim kemarau berikutnya membawa cerita yang serupa. Yang berubah mungkin hanya lokasi dan luas wilayahnya, sementara pertanyaan tentang mengapa kebakaran terus berulang masih tertinggal di tempat yang sama.

Serupa pohon yang berdiri di tengah musim kering, Sulawesi pun dipaksa bertahan ketika tanah tempat kehidupan tumbuh kembali berhadapan dengan api. Di bulan ketika kemerdekaan kembali dirayakan dengan perlombaan dan kegembiraan, sebagian masyarakat justru masih berhadapan dengan persoalan untuk mempertahankan apa yang menjadi tempat mereka hidup. Merdeka seharusnya bukan hanya tentang bebas merayakan, tetapi juga tentang dapat menjalani hari tanpa rasa takut kehilangan tempat tinggal, lahan, atau udara yang layak dihirup. Sebab, ketika api terus datang setiap tahun, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan hanya kapan api itu akan padam, tetapi mengapa masyarakat selalu diminta bersiap untuk menghadapinya kembali.

Guncangan di Tanah Flores

Dua hari sebelum hari kemerdekaan, Flores lebih dulu berguncang. Bukan karena euforia kebahagiaan, melainkan karena gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Dalam hitungan waktu, kekhawatiran merambat. Gempa tersebut tidak hanya mengguncang tanah, tetapi juga memunculkan ancaman tsunami bagi sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.

Air laut pun sempat mengalami kenaikan di sejumlah wilayah. Peringatan dini tsunami akhirnya dinyatakan berakhir setelah kondisi muka air laut dipantau kembali. Namun, berakhirnya peringatan tidak serta-merta menghapus rasa takut.

Bagi mereka yang merasakannya, kejadian ini bukan sekadar seberapa besar magnitudo yang tercatat dalam laporan. Ada Bapak yang harus memastikan anggota keluarganya masih bisa bernapas dengan lepas, ibu yang ingin mendekap anaknya dengan lebih erat, hingga mereka yang harus mengikhlaskan orang terkasihnya untuk menerima takdir yang berbeda.

Serupa satwa yang lepas dari jerat pemburu, kemerdekaan bagi mereka bukanlah sorak-sorai perayaan, melainkan celah untuk bernapas setelah kehidupan nyaris direnggut. Di baliknya, terdapat tempat tinggal yang tak lagi sama, anggota keluarga yang tak lagi lengkap, hari-hari yang dilalui dengan kewaspadaan, hingga pikiran yang terus dihantui guncangan.

Sentuhan Api untuk Tanah Adat

Setelah api menjalar dari satu tanah ke tanah lainnya, kobaran itu akhirnya menyentuh ruang yang bukan sekadar tempat tinggal. Pada 22 Agustus 2026, kebakaran melanda Kampung Adat Sade, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Api membakar sejumlah rumah adat yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sasak. Di tempat yang setiap harinya menyimpan cerita tentang leluhur dan tradisi, malam itu api justru meninggalkan cerita yang berbeda.

Kampung yang biasanya dipenuhi aktivitas masyarakat mendadak berubah menjadi kepanikan. Warga berusaha menyelamatkan apa yang masih dapat dibawa, sementara api terus melahap bangunan yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Yang terbakar bukan hanya kayu dan atap rumah, tetapi juga benda-benda yang menyimpan ingatan tentang kehidupan yang telah berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Bukan hanya tentang rumah yang kehilangan bentuknya, melainkan tentang kehilangan sebagian dari tempat di mana sebuah kebudayaan tumbuh dan diwariskan. Rumah adat bukan sekadar bangunan untuk berteduh. Di dalamnya terdapat cerita, kebiasaan, dan identitas yang tidak selalu dapat dibangun kembali hanya dengan mengganti kayu dan atap yang hangus. Ketika api padam, mungkin yang tersisa bukan hanya puing, tetapi juga pertanyaan tentang bagaimana sesuatu yang diwariskan begitu lama harus kembali dibangun dari awal.

Serupa lembaran sejarah yang terbakar sebelum sempat selesai dibaca, Kampung Adat Sade harus menyaksikan sebagian kisahnya berubah menjadi abu. Kemerdekaan yang dirayakan dengan bendera dan pesta di berbagai tempat justru datang dengan cara berbeda bagi mereka. Sebab, bagi masyarakat yang kehilangan sebagian ruang budayanya, merdeka bukan sekadar tentang dapat mengibarkan Merah Putih, tetapi juga tentang memiliki ruang untuk menjaga apa yang diwariskan kepada mereka. Dan ketika api telah padam, semoga yang kembali dibangun bukan hanya rumah-rumahnya, tetapi juga ingatan bahwa kebudayaan tidak boleh dibiarkan menjadi korban berikutnya.

“Lima wilayah, lima luka, lima bagian dari tubuh Indonesia yang perlahan kehilangan sesuatu dari dirinya sendiri. Hutan menghitam, tanah menggeliat, rumah-rumah kehilangan atap, dan ingatan tentang leluhur nyaris ikut menjadi abu. Sementara di kejauhan, bendera tetap berkibar seperti tak pernah terjadi apa-apa. Barangkali begitulah cara sebuah negeri merayakan kemerdekaan. Sebagian berpesta di bawah langit yang dihiasi warna-warni, sebagian lain menghitung apa saja yang masih tersisa setelah api, tanah, dan ketakutan mengambil bagiannya.”

Di ruang digital, pray for kembali memenuhi linimasa setiap kali bencana datang. Doa, unggahan, dan kepedulian mengalir untuk mereka yang sedang kehilangan. Namun, ketika kabar berganti dan perhatian berpindah, mereka tetap harus menjalani hidup dengan luka yang belum selesai.

Sebab kemerdekaan bukan hanya tentang Merah Putih yang berkibar dan sorak-sorai perayaan. Kemerdekaan juga tentang mereka yang masih memiliki ruang untuk hidup, rumah untuk pulang, udara untuk dihirup, dan tanah untuk dipertahankan. Maka, pray for Indonesia seharusnya tidak berhenti sebagai ucapan duka di lini masa, tetapi menjadi pengingat bahwa bencana yang terus berulang adalah luka yang tak boleh terus dianggap biasa.

Editor: Zidan Al-Afgani