Kembali Terjadi Pencurian Motor di Unisba, Dua Mahasiswa Fikom Menjadi Korban

(Foto: Muhamad zidan/KMJurnalistik.com)

Oleh: Muhamad Zidan

Aksi pencurian motor kembali terjadi di lingkungan kampus Unisba, dan terdapat dua korban yang berasal dari Fakultas Ilmu Komunikasi angkatan 2024 AFQ dan AS. Pencurian pertama terjadi pada Kamis (13/11) yang menimpa AFQ. Hanya dengan terpaut waktu kurang lebih dua pekan, aksi kedua terjadi pada Sabtu (29/11) dan AS yang menjadi korban. Kedua hal malang ini terjadi pada malam hari, dan ini menjadi sebuah perwujudan dari buruknya keamanan di lingkungan kampus Unisba. 

Hal ini memang bukan sesuatu yang baru, akan tetapi fokus utamanya adalah, tidak adanya evaluasi dan tindakan yang diambil oleh pihak kampus. Masih terlalu banyak blindspot atau celah sehingga pencuri dapat melakukan aksinya.

Kronologi Kejadian
Korban (AS)
Menurut keterangan korban, kejadian berlangsung sekitar pukul 18:30 WIB, ketika korban hendak melakukan kegiatan gladi Leadership Training Program (LTP) di kampus. AS memarkirkan sepeda motornya di depan gerbang Menwa. “Sekitar jam 18:30 malem tuh datang ke kampus kan, dan parkir di depan gerbang Menwa,” ujar AS. Setelah selesai gladi sekitar pukul 22:00 WIB, korban mendapati motornya sudah tidak ada disana. “Terus sekitar jam 10 mau pulang, tiba-tiba motornya udah ga ada ditempat parkiran yang itu (gerbang Menwa),” jelas AS.

Pasca kehilangan, tanpa pikir panjang korban mengabari orang tuanya via telepon, dan langsung membuat laporan ke satpam dan juga polsek. “Setelah kehilangan, aku langsung nelpon orang tua dan ke polsek. Laporan juga ke satpam kampus,” tutur AS

Walaupun AS telah menerima sebuah kenyataan yang tidak baik, AS memiliki sebuah harapan akan peningkatan di sektor keamanan kampus. “Pengennya CCTV diperbanyak, mungkin ditempat parkir motor gitu. Terus juga, parkir motor itu harus lebih dijaga,” pungkas AS.

Korban (AFQ)
Tapi sebelum kasus ini mencuat, terdapat korban lain, kurang lebih 2 pekan sebelum kejadian pencurian menimpa AS, korban itu adalah AFQ. “Kronologi kejadiannya sebelum pencurian, saya lagi ada di kampus, ada di ruang fikom. Ke kampus sekitar jam 10-an (malam), dan itu posisinya lagi gerimis. Setelah saya beres di rfikom sekitar setengah 3 (subuh) mungkin, motornya udah engga ada.” tutur AFQ.

Tindakan yang diambil oleh AFQ hampir tidak ada bedanya dengan yang dilakukan oleh AS, mulai dari mengabari kedua orang tua hingga laporan ke polsek. Namun, ada satu tindakan yang berbeda dengan AS, yaitu memantau marketplace jual beli motor. “Menyebarkannya (berita kehilangan) di sosmed, sambil memantau marketplace-marketplace jual beli motor, seperti itu,” jelas AFQ.

Pada saat wawancara dilakukan AFQ mengatakan bahwa, pada saat melakukan pencarian bukti terdapat beberapa kendala. “Pencarian bukti, ada kendalanya karena posisinya sudah tidak ada orang disitu. Terus CCTV kampus tidak ada yang menyorot ke tempat motor saya parkir, gitu jadi blind spot. Jadi gak kesorot tempat motor saya parkir disitu, dan untuk saksi mata pun tidak ada saat itu.” terang AFQ. Setelah kejadian ini, AFQ pun memiliki sebuah harapan untuk peningkatan keamanan kampus, “lebih ditingkatkan (keamanan), pasanng CCTV di area blind spot, pasang banyak pengingat (tindakan pencurian) buat pengendara,” pungkas AFQ.

Evaluasi
Setelah mendengar kronologi dan beberapa harapan kecil dari korban pasca peristiwa ini, tentu harus ada sebuah evaluasi dan tindakan yang diambil, guna memperketat keamanan dan kenyamanan di lingkungan kampus. Kita tidak boleh diam saja membiarkan kasus pencurian terus berulang, apakah kita akan terus diam sebelum kendaraan kita dicuri satu persatu? Tentu kita juga tidak menginginkan hal tersebut, pun kita juga tidak menginginkan kejadian ini terus berulang.

Ada beberapa hal yang mungkin harus diambil oleh pihak kampus guna meningkatkan keamanan dan ketertiban di lingkungan kampus. Pertama, meningkatkan fasilitas keamanan yang dimiliki oleh kampus, memperbanyak CCTV di area rawan akan pencurian, agar kita dapat memantau area rawan tersebut. Kedua, meningkatkan Satuan Pengamanan kampus, karena kedua korban sama-sama kehilangan motor pada malam hari, dengan begitu hal ini bisa menjadi bahan evaluasi. Ketiga, pihak kampus bisa membuat pengingat untuk seluruh masyarakat kampus ketika sudah memasuki waktu malam, bisa dengan bantuan pihak keamanan kampus. Keempat, waktu tutup parkir Menwa yang terlalu cepat dan ada beberapa area parkir yang tidak dapat diakses oleh mahasiswa, kembali kepada fasilitas lahan parkir yang sangat terbatas untuk lingkungan kampus Unisba, karena tidak dapat menampung seluruh masyarakat kampus. Keempat hal ini berdasar kepada data lapangan dan keterangan dari pihak korban, tentu kita menginginkan lingkungan kampus yang benar-benar aman. 

Selain evaluasi dan menunggu tindakan yang diambil dari kampus, kita sebagai pemilik kendaraan pun harus memiliki kesadaran akan keamanan di lingkungan kampus yang terbilang rawan akan pencurian. Maka dari itu, ada beberapa tindakan pula yang dapat kita lakukan guna meningkatkan keamanan kendaraan kita. Pertama, memilih lokasi parkir yang aman, setelah memasuki waktu malam kita bisa memindahkan kendaraan kita ke area yang lebih aman dan bisa terpantau oleh penjaga ataupun tersorot oleh CCTV. Kedua, kunci ganda (kunci stang), dengan melakukan kunci stang, orang yang akan melakukan aksi pencurian tentu akan kesulitan untuk membobolnya.

Dengan terus berulangnya kejadian ini, tentu kita harus lebih meningkatkan kesadaran akan masih rawannya kasus pencurian di lingkungan kampus, dengan begitu kita bisa meminimalisir atau bahkan mencegah hal tersebut. Kita tidak bisa meningkatkan keamanan hanya dengan kesadaran kita saja, tentu tindakan dan peran dari pihak kampus juga sangatlah vital, untuk peningkatan sektor keamanan di lingkungan kampus ini. Selama lubang itu belum ditutup dengan rapat, siapapun bisa menjadi korban berikutnya.

Editor: Rifqi Muhammad