Tanjung Angin: Ruang Kolektif Para Seniman Lokal yang Bertiup di Sepanjang Ramadhan
(Foto: Zidan Al-Afgani/KMJurnalistik.com)
Oleh: Zidan Al-Afgani
Pada Sabtu 14 Maret, di Java Sumedang Coffee Jl. Raya Tanjungsari no. 394, Kabupaten Sumedang, menjadi saksi akan berjalannya sebuah aksi. Suara musik mengalun dalam sebuah ruang kecil, karya seni terpajang di sepanjang lokasi yang dapat memikat mata. Bulan Ramadhan biasanya identik dengan kegiatan keagamaan, tapi Tanjung Angin menyajikan hal yang berbeda. Acara ini menjadi sebuah ruang interaksi dan berkumpulnya para seniman, musisi, dan audiens yang memiliki minat dalam musik dan seni.
Acara ini tentu akan menjadi pengalaman yang tidak biasa bagi beberapa audiens. Kaori, salah satu audiens yang datang, menilai Tanjung Angin menjadi tempat yang memberi ruang bagi musisi-musisi yang belum memiliki nama besar, tetapi memiliki karya yang menarik.
“Menurut aku yang paling menarik itu, karena event ini tuh bisa mewadahi musisi-musisi yang mungkin belum terlalu punya nama. Tapi karya-karya nya bagus-bagus, dan adanya event ini ngebantu banget kasih panggung, terus buat temen-temen di daerah sini terutama yang suka lagu-lagu kaya gini tuh bisa menikmati secara langsung jadinya silaturahminya dapet, temen baru dapet, relasilah ya.” ujarnya.
Menurutrnya, acara ini dapat membuka atau mewadahi orang-orang untuk berinteraksi dengan komunitas baru. Selain menikmati musik, audiens juga bisa mulai membangun relasi dengan orang-orang baru yang memiliki minat sama.
Hal serupa disampaikan oleh Jovano, seorang mahasiswa yang berasal dari Jakarta. Ia melihat antusiasme audiens yang cukup tinggi, bahkan tedapat beberapa audiens yang dari luar daerah.
“orang-orang disini udah banyak banget dan dari luar daerah juga kan. Dan menurut aku ini udah lumayan besar namanya, jadi menurut aku sih karena namanya udah besar, bisalah ke tempat yang lebih besar. Dan satu lagi, indoor kayaknya lebih seru deh.” katanya.
Di balik acara tersebut, ada kerja sama kolektif dari berbagai komunitas yang terlibat untuk menyukseskan acara ini. Perwakilan dari Qelanain sebagai penginisiasi acara menjelaskan bahwa konsep Tanjung Angin yang sederhana.
“Sebenernya konsepnya sederhana, konsep dasarnya tuh kita pengen berjejaring dengan komunitas-komunitas DIY, komunitas-komunitas musik, para seniman. Jadi untuk konsepnya sendiri, kita tuh pengen lebih menjalin, kalo bahasa santainya nongkrong bareng lagi sama seniman-seniman lokal dan band-band lokal juga.” jelasnya.
Bulan Ramadhan dipilih sebagai waktu berlangsungnya acara tersebut. Karena bulan tersebut dianggap waktu yang tepat untuk menghadirkan kegiatan yang bukan hanya sebagai hiburan, tetapi memiliki nilai edukatif. Selain menampilkan musik dari musisi-musisi lokal, acara ini juga menyajikan segmen lain yang dapat dirasakan secara langsung oleh audiens, mulai dari menghadirkan workshop hingga pameran galeri seni yang menampilkan karya-karya dari seniman lokal.
Tajuk Tanjung Angin sendiri memiliki cerita unik dibaliknya. Karena di kawasan Tanjungsari sudah memiliki sebuah acara gigs bernama Tanjung Api, yang identik dengan scene musik-musik keras seperti punk, hardcore, hingga metalcore.
Dengan Tanjung Angin ini, pihak panitia ingin mencoba untuk menghadirkan nuansa yang berbeda. Jika Tanjung Api menggambarkan sebagai sebuah ledakan energi, maka Tanjung Angin terlahir sebagai energi sebaliknya dari Tanjung Api, namun tetap memiliki agenda yang tidak kalah menarik.
“si Tanjung Api ini lebih concern ke gigs yang bener-bener musik-musik keras, ya entah itu punk, hardcore, metalcore, ya pokoknya gigs. Karena ini momentumnya di bulan suci yang baik dan penuh rahmat, ya sebenernya kita agak iseng aja gimana kalo Tanjung Angin, kalo tanjung api terlalu ekstrem dan lainnya, kita balikin ke tanjung angin dengan agenda yang cukup menarik,”
Selain itu, acara ini memiliki perbedaan dengan acara kolektif pada umumnya. Karena Tanjung Angin sendiri digelar selama satu bulan penuh dengan tiga fase. Setiap fase berlangsung selama tiga hari pada weekend, Jum’at, Sabtu, dan Minggu.
Menurut panitia, keputusan berani itu dilandasi oleh banyaknya seniman-seniman lokal yang terlibat dan banyaknya suport yang mereka dapatkan.
“kita ga mau bikin acara yang sehari beres, bukannya kita pengen nantang bikin acara yang besar, cuma seniman-seniman lokal disini tuh terlalu banyak, dan banyak juga yang suport. Jadi ya kita punya ide nyeleneh aja, gimana kalo sebulan aja kita jadiin aja deh. Jadi si audiens pun bisa pilih, mau di minggu ke berapa datengnya di hari ke berapa, kan ada 3 fase dan di tiap fase nya ada 3 hari, jumat, sabtu, minggu, Jadi si audiensnya pun bisa pilih.” jelasnya.
Tiap-tiap fase acara, panitia berkolaborasi dengan berbagai artworker lokal sebagai perancang desain visual acara tersebut. Kolaborasi ini menjadi salah satu bentuk ruang yang disajikan untuk menggaet lebih banyak artworker lokal untuk memuat karya-karyanya di depan publik.
Menyelenggarakan rangkaian acara selama satu bulan penuh tentu tidaklah mudah. Salah satu momok utama yang menghadang panitia adalah faktor cuaca yang sangat sulit untuk diprediksi selama satu bulan tersebut.
“Mungkin hambatan yang paling utamanya dari acara inituh, kita gabisa ngeprediksi cuaca. Karena ya, kita harus set up panggung, gallery seni, ya itu kerepotannya kalo hujan, kita harus buru-buru ngamanin aset, ngelayout lagi dari awal.” kata panitia.
Editor: Rafli Fitrananda Alsa
