No Distance Left To Run: Saat Mengikhlaskan Menjadi Bentuk Tertinggi Mencintai
(Sumber Foto: rollingstone.com)
Oleh: Muhamad Raya Fatir
Pada tahun 1990-an, Blur muncul sebagai salah satu ikon britpop Inggris. Beranggotakan Damon Albarn, Graham Coxon, Alex James, dan Dave Rowntree, mereka dikenal lewat lagu-lagu satir dan enerjik dalam album seperti Parklife dan The Great Escape. Namun, di penghujung dekade Blur mulai meninggalkan identitas britpop dan bereksperimen dengan warna musik yang lebih personal. Perubahan tersebut mencapai puncaknya dalam album 13, sebuah karya yang jauh lebih emosional dibandingkan album-album mereka sebelumnya.
Album “13” ini menghadirkan lagu-lagu “Tender” dan “Coffee & TV” yang berbeda jauh dari identitas britpop Blur sebelumnya. Salah satu lagu dari albumnya yaitu “No Distance Left To Run”. Lagu ini hadir dengan melodi yang sangat pilu dan sepi, seperti rasa ketika terbangun di jam enam sore setelah tidur siang, bingung membedakan sisa mimpi dan kenyataan. Lagu ini ditulis setelah Damon Albarn mengakhiri hubungan jangka panjangnya dengan Justine Frischmann. Alih-alih kesal dan marah, Damon Albarn justru mendoakan agar mantan kekasihnya dapat menjalani hidup yang aman setelah berpisah dengannya. Karena rasa ketulusan itulah yang membuat “No Distance Left To Run” ini menjadi salah satu lagu yang paling jujur, dan mengesankan sepanjang sejarah diskografi Blur.
Pada awalnya saya mendengarkan “No Distance Left To Run” untuk pengantar sebelum saya tidur di malam hari, tetapi karena sering sekali diputar secara tidak langsung alam pikiran mulai memahami isi di balik melodi dan alunan gitar tanpa reff yang sangat pilu tersebut. Lagu ini mendadak bukan lagi sekadar suara latar agar kamar tidak terasa sepi, tetapi menjadi ruang yang membuka kembali ingatan-ingatan lama. Dan semua rasa sesak itu langsung terasa ketika bait pertamanya mulai masuk.
“It’s over”
“You don’t need to tell me”
Lagu baru saja dimulai, namun lirik dan nadanya sudah terasa seperti sebuah perpisahan yang dipaksakan. Seolah mengabarkan bahwa beberapa hal memang harus selesai bahkan sebelum benar-benar siap untuk memulainya.
“I hope you’re with someone who makes you feel safe in your sleeping tonight”
Ahhh, terdengar seperti sebuah kemustahilan, bukan? Ketika hati baru saja patah dan hancur, seseorang justru mendoakan agar orang yang dicintainya menemukan kebahagiaan dan rasa aman di luar sana, meski itu artinya tanpa kehadirannya lagi.
Terkadang ketika seseorang tidak lagi sanggup menggenggam pasir yang sudah mulai jatuh dari sela jemari, kenapa tidak mengikhlaskannya saja? Lagipula, merelakannya pergi adalah satu-satunya pilihan yang tersisa saat muncul kesadaran bahwa ia jauh lebih nyaman berada di luar genggaman. Sebab, mencintai terkadang bukan lagi tentang bertahan, melainkan tentang memastikan dia merasa aman meski harus bersama orang lain.
“I won’t kill myself trying to stay in your life”
“I got no distance left to run”
Pandangan penulis, dua baris kalimat ini baru akan terasa begitu menusuk justru ketika hubungan itu telah benar-benar selesai. “I won’t kill myself trying to stay in your life” bukan lagi sebuah ancaman saat bertengkar, melainkan sebuah pernyataan tegas kepada diri sendiri setelah perpisahan terjadi. Kalimat itu terdengar seperti seseorang yang akhirnya melepaskan sesuatu yang selama ini digenggam terlalu erat hingga melukai telapak tangannya sendiri, sebuah janji bahwa tidak akan lagi merusak dan membunuh diri sendiri secara perlahan demi menahan apa yang memang ingin lepas.
Tetapi, kebebasan itu datang bersama kelelahan yang luar biasa. Ketika kalimat “I got no distance left to run” menyauti, alam pikiran mulai tersadar dampak dari memaksakan diri bertahan selama ini. Hubungan itu sudah selesai, genggaman sudah terlepas, tapi yang tersisa adalah kekosongan yang nyata. Tidak ada sisa energi lagi bahkan untuk berlari menjauh, memutar arah, atau memulai lembaran baru. Yang tersisa hanyalah tubuh yang terduduk di garis akhir sebuah perpisahan dengan tangan yang terluka, kehabisan napas karena seluruh daya telah habis terkuras di masa lalu.
“I′m coming home”
“So cold”
“No more”
“Home”
“No more, no more, no more.”
Penggalan lirik di bagian akhir menggambarkan bahwa keikhlasan dalam lagu ini bukan berarti rasa sakitnya hilang. Yang hilang hanyalah keinginan untuk memaksa seseorang tetap tinggal. Segala hal yang dirasakan kini berubah menjadi kehampaan total setelah ditinggalkan oleh orang yang paling disayang. Menggambarkan suasana yang mendadak dingin, sunyi dan kehilangan kehangatan tepat setelah hubungan panjang yang selama ini dijalani.
Dan pada akhirnya, “No Distance Left To Run” bukan tentang kehilangan seseorang, melainkan tentang menerima bahwa kita bukan lagi tempat ia pulang. Mungkin puncak tertinggi dari mencintai adalah tetap berharap ada yang menjaganya, membuatnya merasa aman, dan tidak mengulang luka yang sama, meski kita tak lagi ada di sisinya dan tanpa sedikit pun berharap ia kembali. Setelah itu, yang bisa dilakukan hanyalah menerima bahwa masa depan yang pernah dibayangkan memang ada, hanya saja tidak lagi dijalani bersama.
Editor: Zidan Al-Afgani
