Echo Chamber Breaker: Narasi Perempuan dalam Skena Musik Alternatif
(Foto: @derizalprast)
Oleh: Riko Alviano
Sabtu, 5 Juli 2025, di IFI Bandung ada selebrasi yang tak biasa. Bukan sekadar gig, tapi sebuah pernyataan tentang ruang, keberagaman, dan suara-suara yang selama ini terpinggirkan.
UnitedHart, brand asal Bandung yang selama ini lekat dengan identitas skateboarding, streetwear, dan komunitas alternatif, yang menggagas ruang bernama Open Tabs. Sebuah platform Cultular yang mereka rancang sebagai arena ekspresi yang cair, bebas, dan terbuka. Open Tabs hadir lebih dari sebagai gig, tetapi berupaya hadir sebagai bentuk pengarsipan momen, suara, dan gerakan yang tak sekadar terdengar, tapi betul-betul dirasakan secara kolektif.
Bab pembukanya diberi tajuk Echo Chamber Breaker, sebuah selebrasi yang berpijak pada semangat perempuan Tentang keberisikan, kelembutan, perlawanan, dan solidaritas yang mengalir dalam frekuensi yang tak bisa diredam.
Echo Chamber Breaker
Seri pertama dari Open Tabs ini menampilkan sesuatu yang jarang ditemukan di skena musik Bandung yaitu dengan mempertemukan tujuh band yang semua vokalis-nya perempuan. Grrrl Gang, Drizzly, Hardik, Sucka, Sunbath, ASHN, dan PT. Hardcore Indo menjadi representasi dari spektrum musik yang luas: dari raw punk, hard techno, hingga shoegaze dan bedroom pop. Tak ada satu genre yang mendominasi, namun semuanya diikat oleh satu energi: ekspresi feminin yang otonom dan tidak bisa dipetakan secara sempit.
Pemilihan lineup ini bukan untuk variasi estetika semata. UnitedHart dengan sengaja mengangkat suara-suara yang selama ini sering dianggap “terlalu ini, terlalu itu” terlalu lembut, terlalu bising, terlalu aneh, terlalu banyak. Maka, apa yang muncul malam itu bukan hanya musik, tapi lebih terasa seperti perlawanan yang puitik.
Grrrl Gang menyambut konsep ini dengan penuh antusias. Menurut mereka, pengalaman tampil di acara yang menempatkan perempuan sebagai fokus masih sangat jarang terjadi.
“I think it’s really great sih ya. Dari pengalamannya Grrrl Gang juga, kita lumayan jarang sih main di gigs yang emang specifically kayak gini—cewek show gitu. Bisa dihitung jari. I think this is a good step, more all-female line-up.”
Mereka bahkan menyebutkan bahwa baru-baru ini tampil dalam acara serupa di luar negeri.
“Awal tahun ini kita baru main di Singapur dan Malaysia dengan konsep yang sama.”
Soal atmosfernya?
“Seru sih. I guess yang paling keliatan itu female attendees juga kerasa lebih welcome. Karena dari segi conceptualization show juga lebih mikirin hal-hal kayak gitu. So really great.”
Dan saat ditanya seberapa penting keberadaan perempuan di ruang musik:
“Penting banget. I think karena unfortunately, sexism itu kan masih lumayan ada di mana-mana gitu kan—apalagi di music industry. So kalo ada lebih banyak perempuan, line-up-nya juga jadi lebih diverse. Kaya… it kinda opens space buat isu-isu kayak sexual harassment juga bisa lebih kebicarain.”
Echo Chamber Breaker lahir dari keresahan yang nyata. Tentang bagaimana skena musik underground seringkali mengulang pola dan nama yang sama. UnitedHart ingin memutus gema itu, keluar dari ruang gema (echo chamber) yang stagnan. Maka lahirlah ruang ini.

(Foto: @derizalprast)
Selain musik, aktivasi ruang malam itu terasa seperti pameran mikro kolektif. Ada Note Wall, di mana pengunjung menuliskan pesan, refleksi mereka masing-masing. Ada juga zine buatan tangan, cuplikan Women Capsule Collection dari UnitedHart, dan merchandise terbatas yang digarap dengan pendekatan kolaboratif.
Tapi lebih dari semua itu, yang paling terasa dari Echo Chamber Breaker adalah atmosfer yang aman dan inklusif. Acara ini berhasil menciptakan ruang yang benar-benar ramah bagi perempuan.
“Buat aku pribadi ini jadi ngerasa lebih nyaman. Gak cuma secara fisik ya, tapi juga secara emosional. Karena sering banget ada rasa ‘outsider‘ tiap dateng ke gigs yang isinya laki-laki semua. Di sini, kerasa lebih gak ada tekanan buat tampil atau behave dengan cara tertentu. Jadi ngerasa bisa lebih jadi diri sendiri.”
Ujar Neysa, salah satu pengunjung perempuan malam itu. Pengalaman ini bukan hal remeh. Sebab banyak ruang musik selama ini tak memberi tempat bagi perempuan untuk hadir tanpa was-was, apalagi merasa aman secara emosional.
Open Tabs melalui Echo Chamber Breaker telah membuka jalan bahwa desain acara, lineup musik, dan aktivasi ruang bisa menjadi alat untuk membentuk ekosistem baru yang lebih jujur, lebih merangkul, dan lebih kritis.
Acara ini menjadi pengingat bahwa ruang berekspresi yang adil tidak akan lahir sendiri. Ia harus dirancang, dibangun, dan dijaga bersama.
Editor: Dzikrie Tyasmadha
