Menyimak Perjuangan Bung Hatta, Bapak Koperasi Indonesia

Pict Source: Google.


Oleh: Jufadli Rachmad.


Siapa yang tak kenal Mohammad Hatta? Di balik namanya yang dikenal sebagai salah seorang proklamator kemerdekaan Indonesia, ia juga dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Menjadi seorang proklamator serta digelari sebagai Bapak Koperasi Indonesia bukanlah cita-citanya. Baginya, yang terpenting adalah bagaimana bangsa ini bisa terbebas dari belenggu penjajahan serta bagaimana masyarakatnya bisa sejahtera.

Mohammad Hatta lahir 43 tahun sebelum Indonesia Merdeka, tepatnya pada 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ayahnya meninggal saat ia masih berusia tujuh bulan. Ia beserta kelima saudara perempuannya dibesarkan oleh ibu dan ayah tirinya.

Sebenarnya, nama asli Hatta adalah Muhammad Athar, dalam bahasa Arab berarti ‘harum’. Mulanya, ia sering dipanggil dengan sebutan Atta, hingga lama-kelamaan nama panggilan itu berubah menjadi Hatta, seperti yang akrab di telinga kita hingga saat ini.

Meski dilahirkan di keluarga yang cukup berada, ia memulai sekolahnya di sekolah rakyat, hingga belum sampai tiga tahun ia dipindahkan ke sekolah Belanda. Hatta juga sempat bersekolah di Jakarta, hingga akhirnya melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi di Rotterdam, Belanda.

Pada saat itu, fase baru dalam kehidupannya dimulai. Hatta berangkat mengemban ilmu ke tempat yang jauh dari tanah airnya, bahkan ke negara yang ia benci sejak kecil. Namun, di sinilah ia mendapatkan bekal-bekal penting untuk membangun bangsanya. Di sini ia juga bertemu teman-teman yang sepaham dan satu tujuan dengannya, yang turut mengantarkannya pada organisasi mahasiswa Indonesia yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Belanda. Organisasi ini memiliki tujuan yang sama dengan Hatta–memerdekakan Indonesia.

Rasa benci Hatta terhadap Belanda sudah tertanam sejak ia kecil. Semasa kecilnya, acap kali ia menyaksikan pemandangan kekerasan tentara Belanda kepada penduduk sekitar rumah tempat ia tinggal. Rumah orangtuanya terletak di dekat sebuah jembatan yang menjadi pintu masuk menuju Kota Bukittinggi. Dari depan rumahnya, ia bisa melihat langsung para tentara Belanda menggeledah hingga menyiksa orang-orang yang hendak masuk ke kota tempat ia dilahirkan tersebut.

Kemudian rasa benci ini juga semakin terpupuk oleh cerita-cerita yang sering ia dengar dari pamannya tentang Belanda, yang pada saat itu memaksa masyarakat Minangkabau untuk melakukan kerja paksa dan melanggar perjanjian dengan seringkali tidak menghormati adat istiadat masyarakat minangkabau.

Belanda jahat, Belanda tidak bisa dipercaya”. Seperti sudah menjadi kalimat yang telah tertatam dalam benak Hatta kecil.

Atas apa yang dilihatnya sejak kecil, Hatta tumbuh menjadi sosok yang sangat mencintai tanah airnya. Sejak masih menempuh pendidikan, ia sudah tergabung dalam organisasi-organisasi yang berorientasi untuk memajukan rakyat.

Ketika bersekolah di Padang, ia bergabung dengan Jong Sumatranen Bond–Perkumpulan Pemuda Sumatra, dan menjabat sebagai bendahara organisasi. Jabatan inilah yang membuat ia sadar akan seberapa pentingnya keuangan bagi sebuah organisasi, bahkan suatu negara. Pengalaman ini juga yang memengaruhi Hatta untuk mengambil studi di bidang ekonomi. Dari organisasi ini pula, perjalanannya untuk memerdekakan tanah airnya dimulai.

Pada saat duduk di bangku kuliah, ia juga tergabung kedalam Perhimpunan Indonesia (PI), sebuah organisasi Mahasiswa Indonesia di Belanda. Ia bahkan sempat diangkat menjadi ketua organisasi tersebut selama beberapa tahun. Melalui organisasi ini Hatta “galak” menyuarakan penolakan-penolakan terhadap imperialisme.

Karena perjuangannya di PI juga mengakibatkan ia sempat merasakan dinginnya kurungan penjara selama lima bulan, atas tuduhan menghasut masyarakat untuk melakukan pemberontakan, dan akhirnya dibebaskan karena tuntutan tersebut tidak terbukti, Hatta bersama tiga rekan PI lainnya dinyatakan tidak bersalah.

Dalam pembelaannya di pengadilan, ia menguraikan nasib bangsa Indonesia akibat dijajah oleh Belanda, ia menjelaskan bahwa tujuan utama PI adalah untuk memerdekakan Indonesia, dan dalam mencapai tujuan tersebut, PI tidak akan menggunakan kekerasan. Dalam sidang ini Hatta juga mengutip sajak dari seorang penyair Perancis, Rene de Clerq. Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sajak itu berbunyi seperti ini:

Hanya ada satu tanah

Yang dapat kusebut tanah air

Ia besar karena usaha

Dan usaha itu adalah usahaku

Syair ini mewakili semangat serta cita-cita Hatta dalam memerdekakan tanah airnya. Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah kemerdekaan yang diraih melalui usaha. Meski mengalami banyak tantangan dalam perjuangannya, semangat Hatta memerdekakan Indonesia tidak pernah redup. Bahkan, di ruang sidang sekalipun ia tetap menggelorakan semangat perjuangannya.

Kemerdekaan Indonesia di tahun 1945 tidak membuat perjuangannya berhenti sampai di situ saja. Berbekal studi ekonomi yang ia tempuh di Belanda, ia aktif dalam usaha-usaha menyejahterakan rakyat. Ia sangat aktif dalam memajukan koperasi, dengan menulis buku dan berbagai karangan ilmiah tentang koperasi, serta mengisi seminar-seminar di perguruan tinggi. Atas berbagai usaha yang telah dilakukan olehnya, Hatta pun mendapatkan penghargaan sebagai Bapak Koperasi Indonesia.